MediaMerdeka.com – Sebuah usulan kesepakatan antara Iran dan Oman demi menolong mengakhiri perang lima bulan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi menyerahkan kendali kepada Iran atas kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan keterangan sumber senior Iran dan dua aparatur negara regional pada hari Rabu, kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu konsesi terbesar yang sempat diberikan kepada Iran.
Hingga pada saat ini, masih belum ada tanggapan resmi dari pihak AS mengenai usulan tersebut. Meskipun Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan demi membuka kembali selat tersebut telah dekat, para aparatur negara AS semasih belumnya berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan sempat setuju apabila Iran mengendalikan akses ke rute perdagangan energi teramat penting di dunia tersebut.
Kesepakatan yang menyerahkan otoritas kepada Iran atas lalu lintas di Selat Hormuz akan menandakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada bulan Februari telah memicu pergeseran besar dalam keseimbangan kekuatan regional yang menguntungkan Iran.
Semasih belum pecahnya perang, selat ini terbuka secara bebas untuk seluruh kapal tanpa adanya pungutan biaya.
Di tengah upaya diplomatik yang makin luas di kawasan tersebut, Iran dan Oman terus melangsungkan pembicaraan bilateral terkait wilayah selat yang masing-masing mereka kendalikan melalui jalur utara dan selatan.
Iran menginformasikan adanya “kemajuan signifikan” dalam pembicaraan tersebut dan menegaskan bahwa perjalanan kapal masuk maupun keluar nantinya akan melewati wilayah perairan Iran.
Dilansir dari Reuters pada Kamis (6/8/2026), Iran telah menyerahkan peringatan keras kepada negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS ke wilayahnya akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi vital di seluruh kawasan.
Langkah ini diambil Teheran demi meningkatkan risiko kerugian dari tindakan militer bersama mengancam sekutu-sekutu terdekat Washington.
Berbicara di hadapan para pendukungnya dalam rapat umum di Las Vegas, Trump menegaskan preferensinya pada jalur diplomasi. “Saya makin suka menciptakan kesepakatan lantaran saya tidak ingin membunuh orang. Saya tidak ingin membunuh orang, namun pada titik tertentu kita akan menjalankannya,” ujar Trump.
Terkait kesepakatan antara Iran dan Oman, para sumber regional dan Iran mengingatkan bahwa masih ada masalah-masalah signifikan yang masih belum terberakhirkan. Mereka juga menepis klaim Trump yang menyebutkan bahwa kesepakatan pembukaan selat telah di depan mata.
Beberapa rincian yang masih menjadi perdebatan meliputi:
- Definisi Pengendalian: Negosiator dari negara Teluk mendesak agar negara-negara regional ikut mengawasi inspeksi kapal dan mengonfirmasi bahwa pembayaran biaya apa pun bersifat sukarela.
- Tarif Kargo: Iran menuntut biaya sebesar 5% hingga 7% dari harga kargo kapal yang memakai selat. Oman membahas opsi tarif sekitar 3%, sementara Washington menepis adanya biaya sama sekali.
- Rute Navigasi: Rancangan teks pada saat ini merencanakan kendali Iran atas kapal yang menuju ke dalam Teluk. Titik perdebatan utama merupakan sejauh mana peran Iran terhadap kapal yang bergerak ke arah luar (sebaliknya).
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyampaikan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa pengaturan tersebut “dirancang sedemikian rupa berakibat kapal komersial akan melewati perairan teritorial Iran, baik pada rute masuk maupun keluar.”
Ia mengimbuhkan bahwa pembicaraan bersama Oman telah mencapai kesepahaman mendasar dan di ambang tahap finalisasi.
Gharibabadi juga mengklaim bahwa Iran telah menyambut baik pesan dari Amerika Serikat yang mengindikasikan kesiapan penuh AS demi kembali pada komitmen di bawah memorandum kesepahaman (MoU) pertengahan Juni, yang mengatur penghentian operasi militer secara langsung.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

