Jenderal TNI Maruli Simanjuntak Soroti Dana Film Dokumenter Pesta Babi: Duitnya dari Mana?

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak menjadi sorotan publik setelah menyinggung pendanaan film dokumenter berjudul “Pesta Babi” dalam sebuah pernyataan kepada awak media.

Pernyataan tersebut lalu memicu berbagai tanggapan lantaran berkaitan bersama isu sensitif mengenai produksi film dokumenter yang mengangkat kehidupan masyarakat sekitar adat di Papua.

Dalam wawancara tersebut, Maruli Simanjuntak mempertanyakan sumber dana pembuatan film yang menurutnya menampilkan adegan-adegan bersama skala produksi besar.

Ia menyinggung proses pembuatan film yang dianggap melibatkan perjalanan dan pengambilan gambar di berbagai lokasi.

“Sekarang permasalahannya orang sampai menciptakan video. Bagaimana ceritanya bagaikan ini segala macam, duitnya dari mana? Jawab aja ya kan,” ujarnya kepada awak media.

Ia juga mengimbuhkan bahwa proses produksi dokumenter tersebut tampak melibatkan sejumlah aktivitas, termasuk perjalanan ke lokasi tertentu bersama biaya yang tidak sedikit.

“Sampai datang ke sana, bikin video terbang sini terbang sana, orang berduitlah,” sambungnya.

Saat wartawan berupaya menanyakan makin lanjut mengenai dugaan adanya pihak yang mendanai film tersebut, Maruli Simanjuntak merespons bersama pernyataan yang makin santai.

Ia tidak menyerahkan penjelasan makin jauh, namun menegaskan bahwa pertanyaan mengenai pendanaan bukan berasal darinya secara langsung.

“Silakan aja ya. Kan Anda yang bilang ada yang mendanai loh, bukan saya,” katanya sambil tertawa.

Film dokumenter “Pesta Babi” sendiri mengangkat kisah kehidupan masyarakat sekitar adat di wilayah Papua.

Film ini menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat pembukaan hutan dalam skala luas demi proyek pangan dan bioenergi yang sedang berjalan di kawasan tersebut.

Cerita dalam dokumenter ini berfokus pada pengalaman masyarakat sekitar adat yang terdampak langsung, termasuk tokoh-tokoh bagaikan Yasinta Moiwend dari suku Marind, Vincen Kwipalo dari suku Yei, serta komunitas Awyu.

Mereka digambarkan sebagai kelompok yang berusaha mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar.

Dalam narasinya, film ini memperlihatkan bagaimana kawasan hutan adat perlahan berubah menjadi perkebunan skala besar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *