MediaMerdeka.com – Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli menilai Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya memutarbalikam fakta, dalam penjelasannya mengenai total investasi berkat buah diplomasi Presiden Prabowo Subianto di luar negeri.
Sorotan tajam ini muncul setelah Seskab Teddy menyerahkan penjelasan publik mengenai capaian ekonomi di era pihak pemerintahan pada saat ini yang diklaim sebagai hasil kerja keras diplomasi internasional sang kepala negara.
Sosortan terhadap pernyataan Seskab Teddy disampaikan Guntur Romli melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadi, @gunromli.
MediaMerdeka.com telah mengonfirmasi demi mengutip pernyataan Guntur yang kini ramai jadi sorotan.
“Lagi rame video Pak Seskab Teddy menjawab video Pak Dino Patti Djalal. Tapi ada poin dalam video Seskab Teddy yang bersama jelas memutarbalikkan fakta,” ujar Guntur dalam videonya, dikutip Selasa (2/6/2026).
Pernyataan ini merujuk pada video klarifikasi yang dibuat oleh Teddy demi menanggapi kritik dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait efektivitas kunjungan luar negeri kepala negara.
Guntur tidak mempersoalkan besaran nilai investasi yang disebut Teddy dalam paparannya.
Namun, yang menjadi persoalan fundamental untuk politikus PDIP tersebut merupakan klaim Teddy yang menyebut total investasi tersebut merupakan hasil langsung dari diplomasi luar negeri yang dilakukan oleh Prabowo Subianto.
“Dia menyebut total investasi selama 1,5 tahun pihak pemerintahan Prabowo sebesar 2.430 triliun. Sampai di sini Teddy benar. Tapi lalu Teddy membanggakan investasi itu sebagai buah diplomasi luar negeri Presiden Prabowo. Nah, ini yang menyesatkan,” kata Guntur.
Menurutnya, ada kerancuan data yang sengaja ditampilkan demi membangun narasi kesuksesan diplomasi yang tidak
sesuai bersama realitas di lapangan.
Guntur menerangkan mayoritas dari total invedtasi yang disebutkan Teddy justru berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 52,6% atau 1.279,1 triliun.
Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) cuma 1.150,9 triliun atau 47,4% persen. Angka ini memperlihatkan bahwa motor utama investasi nasional sebenarnya merupakan pengusaha lokal, bukan investor asing yang terjaring melalui kunjungan kenegaraan.
“Bahkan sepanjang 2025, PMA hampir stagnan. Artinya, mayoritas uang yang benar-benar masuk merupakan investor dalam negeri, bukan hasil kunjungan luar negeri Presiden Prabowo,” kata Guntur.
Ia menekankan bahwa mengklaim hasil investasi dalam negeri sebagai prestasi diplomasi luar negeri merupakan sebuah
kekeliruan logika data yang fatal dalam administrasi negara.
Mengenai investasi, Guntur menyebutkan semasih belumnya ia sempat menciptakan video perihal “Presiden Prabowo Gagal Menarik Investasi Asing dibanding bersama Masifnya Perjalanan ke Luar Negeri”.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

