Bukan Cuma Siswa, BGN Tegaskan Ibu Hamil dan Balita ‘Haram’ Terlupakan di Program MBG

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menyerahkan klarifikasi penting terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan pihak pemerintah.

Dalam penjelasannya, BGN menegaskan bahwa sasaran penerima manfaat program ini tidak cuma terbatas pada peserta didik atau anak sekolah saja.

Terdapat kelompok rentan yang justru menjadi prioritas utama dalam distribusi asupan gizi tersebut guna mengonfirmasi kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Kelompok rentan yang dimaksud meliputi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita.

Langkah ini diambil sebagai upaya intervensi gizi yang makin komprehensif, mengingat periode tersebut merupakan masa krusial untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Penekanan ini diharapkan dapat menghapus anggapan di masyarakat sekitar bahwa program ini cuma menyasar institusi pendidikan formal.

Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, membeberkan bahwa pihaknya terus menjalankan konsolidasi di berbagai daerah demi menyamakan persepsi ini.

Hal ini dilakukan lantaran masih ditemukan adanya ketidaksinkronan pemahaman di tingkat pelaksana lapangan, mengawali dari Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan mitra, hingga Satuan Tugas (Satgas) MBG di tingkat kabupaten dan kota.

Menurut Sony, kekeliruan pemahaman kerap terjadi lantaran istilah yang digunakan dalam referensi internasional.

Banyak pihak yang masih menganggap program ini cuma berfokus pada pemberian makanan untuk peserta didik di sekolah lantaran terpengaruh istilah school meal.

Akibatnya, sejumlah mitra pelaksana cenderung makin dahulu bergerak menjalin kerja sama bersama pihak sekolah tanpa mempertimbangkan kelompok prioritas lainnya yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah pusat.

Pada setiap kesempatan konsolidasi program MBG di berbagai daerah, saya senantiasa menekankan bahwa tujuan utama program ini merupakan menyerahkan asupan gizi kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita yang berada pada periode emas atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Setelah itu barulah peserta
didik,” ujar Sony.

Penjelasan tersebut menekankan bahwa fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan esensi dari investasi strategis bangsa.

Dengan menyerahkan gizi yang cukup pada ibu hamil dan balita, pihak pemerintah berupaya memutus rantai stunting dan masalah gizi buruk lainnya yang dapat menghambat potensi generasi mendatang.

Program MBG diposisikan sebagai fondasi demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *