MediaMerdeka.com – Mahasiswa Universitas Trisakti membubarkan diri dari pelataran Gedung DPR RI usai menjalankan aksi.
Pantauan MediaMerdeka.com, massa membubarkan diri sekitar pukul 19.50 WIB. Semasih belum membubarkan diri, perwakilan kalangan akademisi sempat menjalankan audiensi bersama pimpinan DPR RI.
Sejumlah pimpinan DPR RI, bagaikan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan anggota DPR RI Habiburokhman, menemui kalangan akademisi demi menyampaikan langsung hasil negosiasi bersama para kalangan akademisi.
Dasco bahkan sempat naik ke atas mobil komando demi menyapa kalangan akademisi secara langsung.
“Hidup kalangan akademisi, hidup rakyat Indonesia,” ucap Dasco mengawali sambutannya dari atas mobil komando, Jumat (19/6/2026).
Setelah para perwakilan anggota DPR menyampaikan hasil pertemuan bersama kalangan akademisi, massa secara kondusif membubarkan diri.
Semasih belumnya, dalam aksinya, kalangan akademisi menyampaikan sejumlah tuntutan di depan Gedung DPR RI. Total ada tiga tuntutan yang disampaikan dalam aksi kali ini.
Wakil Presiden Mahasiswa Trisakti, Muhammad Putra, menyebutkan tuntutan pertama yang disampaikan dalam aksi kali ini merupakan agar pihak pemerintah memulihkan ekonomi bangsa.
“Kami gaungkan demi pulihkan ekonomi dan politik nasional. Kenapa kami sampaikan bagaikan itu? Karena kita menyaksikan ekonomi kini amat jatuh, di mana dipengaruhi oleh sejumlah kebijakan dari pihak pemerintah yang mempengaruhi ekonomi masyarakat sekitar,” kata Putra saat ditemui di Gedung DPR RI, Jumat (19/6/2026).
Sebagai contoh, kata Putra, harga bahan pokok pada saat ini terus meningkat, mengawali dari beras hingga komoditas lainnya.
“Kita ambil contoh pada pada saat ini kini sejumlah bahan pokok yang sedang naik gitu. Mulai dari beras, kami pun menjalankan survei kepada masyarakat sekitar, penjual-penjual itu mempengaruhi mereka menaikkan harga,” katanya.
Selanjutnya, ia menyoroti penggunaan APBN yang dianggap tidak tepat sasaran. Sejauh ini, pihak pemerintah dinilai mengucurkan dana APBN bukan demi program prioritas.
“Kami menyaksikan bagaimana pengaruh dari kebijakan-kebijakan pihak pemerintah ini bagaimana mereka tidak menyerahkan APBN skala yang prioritas, mempengaruhi kenaikan dari Pertamax,” ucapnya.
Putra khawatir kenaikan harga Pertamax sebagai bahan bakar nonsubsidi akan menciptakan masyarakat sekitar beralih ke Pertalite. Akibatnya, dikhawatirkan terjadi kelangkaan bahan bakar bersubsidi.
“Sebenarnya kan yang dituntut sama masyarakat sekitar merupakan bersama Pertamax non-subsidi naik berpengaruh pada kehadapatn Pertalite. Terbukti pada sejumlah SPBU itu telah kehadapatn Pertalite itu sendiri,” ucapnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

