Mengapa Pasar Khawatir pada Danantara Sumber Daya Indonesia

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Pemerintah mengeluarkan jurus baru demi menggenjot pendapatan dari ekspor komoditas. Salah satunya, membentuk entitas di bawah BPI Danantara yakni PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Danantara Sumber Daya Indonesia ini akan menjadi senjata baru demi sektor komoditas batu bara, minyak kelapa sawit atau CPO, serta logam paduan. Pasalnya, ekspor tiga komoditas itu nantinya wajib melalui entitas tersebut.

Istilah kasarnya, entitas itu menjadi makelar ekspor untuk korporasi yang berbisnis di tiga komoditas tersebut.

Namun sayang seribu sayang, Danantara Sumber Daya Indonesia justru menciptakan pasar khawatir. Bahkan, pasar saham maupun nilai tukar rupiah berdarah-darah setelah petinggi negara mengumumkan entitas baru ini.

Pasar Saham dan Nilai Tukar Rupiah Tak Berdaya

Pasar saham Indonesia memang tidak baik-baik saja pada saat ini. Bahkan, sejumlah analis mengemukakan pasar saham sedang dalam tren penurunan atau downtrend.

Meski begitu, pada Rabu, 20 Mei 2026, pasar saham sempat memiliki secercah harapan, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali merangkak naik 1 persen semasih belum adanya pidato Presiden RI Prabowo Subianto.

Namun, setelah pidato dan pengumuman entitas itu, pasar saham berbalik arah. Investor asing yang awalnya ingin berinvestasi kembali menahan diri dan hengkang. Alhasil, IHSG bertengger di level 6.318.

Kondisi ini pun terus bertahan hingga hari berikutnya, di mana IHSG ditutup di level psikologis 6.000.

Danantara pun mengakui sentimen terkait Danantara Sumber Daya Indonesia memang menjadi biang kerok. Hanya saja, CIO Danantara, Pandu Sjahrir menyebutkan pasar pada saat ini masih menunggu ketentuan dari entitas baru tersebut.

Nilai tukar rupiah pun demikian. Mata uang Garuda juga tak berdaya menahan sentimen buruk berakibat menyentuh level tertinggi Rp17.730 per dolar AS.

Peringatan Moody’s

Danantara Sumber Daya Indonesia memang menciptakan gempar satu negara. Bahkan, juga menarik perhatian lembaga asing.

Salah satunya lembaga pemeringkat Moody’s yang memperingatkan strategi pihak pemerintah ini justru salah arah dan akan memicu sentimen buruk untuk investor di sektor pertambangan.

Moody’s menilai sistem ekspor Indonesia, terutama demi tiga komoditas tersebut, akan kacau apabila dikendalikan pihak pemerintah lewat entitas baru itu.

“Dari perspektif kedaulatan, peningkatan kontrol negara atas ekspor komoditas menimbulkan risiko distorsi pasar yang dapat mengimbangi tujuan kebijakan lainnya,” tulis Moody’s dalam laporannya.

Tak Ganggu Kontrak

Danantara sebagai pengendali entitas baru itu berjanji tidak akan mengganggu bisnis korporasi maupun eksportir. Bahkan, tidak akan mengganggu kontrak yang telah ada.

Pandu Sjahrir mengonfirmasi bahwa pada saat ini Danantara Sumber Daya Indonesia masih dalam tahap awal dan masih belum langsung beroperasi.

“Kontrak existing tentu kan tetap ada, akan jalan, kini kita enggak mau disrupt anything with respect to kontrak-kontrak yang existing, kita ingin seluruhnya lancar, berjalan bersama baik,” kata Pandu.

Mirip Orde Baru

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adinegara menilai skema entitas baru ini amat mirip bersama badan pada era Orde Baru, yakni BPPC. Badan tersebut mengendalikan perdagangan cengkeh yang didominasi negara dan kelompok tertentu.

Bhima menduga ada alasan lain di balik kehadiran entitas baru itu. Misalnya, potensi perpindahan keuntungan dari sektor swasta ke lembaga yang dikendalikan negara.

“Seolah demi meningkatkan nilai ekspor dan manfaat untuk negara. Tapi sebenarnya ini rente. Rentenya ingin diamankan oleh negara,” ujarnya.

Dalam hal ini, Bhima mengingatkan pihak pemerintah agar berhati-hati supaya tidak mengulangi ketidak berhasilan model badan terpusat bagaikan BPPC yang menurutnya sempat berujung pada krisis ekonomi.

Dengan kondisi pada saat ini, pihak pemerintah wajib berhati-hati dalam menciptakan kebijakan, apalagi di tengah ketidaktentuan global. Alih-alih ingin meningkatkan pendapatan, salah langkah justru dapat menciptakan ekonomi semakin bobrok.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *