MediaMerdeka.com – Selama ini, ledakan populasi alga berbahaya atau harmful algal blooms (HABs) umumnya dikaitkan bersama limpasan pupuk pertanian, limbah domestik, serta tingginya kandungan nutrien di perairan. Namun, temuan penelitian terbaru memperlihatkan bahwa polusi plastik juga dapat memperparah fenomena tersebut melalui mekanisme ekologis yang selama ini jarang diperhitungkan.
Penelitian ini mengungkap bahwa mikroplastik tidak cuma mencemari air, namun juga dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan di ekosistem perairan, yang pada akhirnya memicu pertumbuhan alga secara bermakinan.
Sebuah studi dari University of California San Diego berjudul “Microplastic Pollution Induces Algae Blooms in Experimental Ponds but Bioplastics are Less Harmful” meneliti bagaimana mikroplastik memengaruhi interaksi antara zooplankton dan alga dalam ekosistem perairan.
Eksperimen dilakukan memakai kolam percobaan yang diberi paparan mikroplastik berbasis minyak bumi serta bioplastik. Peneliti lalu mengamati perubahan populasi zooplankton—organisme mikroskopis yang berperan sebagai pemakan alami alga—serta perkembangan alga di dalam sistem tersebut.
Profesor Ilmu Biologi UC San Diego, Jonathan Shurin, menekankan bahwa dampak plastik terhadap ekosistem masih masih belum sepenuhnya dipahami.
“Kita menyaksikan begitu sejumlah plastik di luar sana, namun bagaimana plastik itu mengubah populasi alga, bakteri, burung laut, atau ikan? Kita benar-benar tidak tahu,” kata Jonathan.
Ketika rantai makanan terganggu
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mikroplastik berbahan dasar minyak bumi berdampak signifikan terhadap zooplankton. Organisme tersebut merasakan penurunan reproduksi hingga kematian dalam waktu singkat, berakibat jumlah predator alami alga berkurang drastis.
Kondisi ini menyebabkan alga tumbuh tanpa kontrol yang memadai. Dalam sistem percobaan, hal tersebut memicu peningkatan populasi alga yang cepat dan berujung pada algal bloom.
Penulis utama studi, Scott Morton, menerangkan bahwa plastik konvensional menyerahkan tekanan makin besar dibandingkan bioplastik.
“Mereka tampaknya mati atau mengurangi reproduksi mereka bersama amat cepat. Bioplastik tidak memiliki efek yang sama. Hal itu berdampak pada alga… semakin sedikit zooplankton yang mengonsumsi seluruh alga itu berarti semakin sejumlah alga dalam sistem,” ujar Scott.
Bioplastik dan peluang pengurangan dampak
Studi ini juga memperlihatkan bahwa bioplastik tidak menyerahkan dampak yang sama terhadap penurunan populasi zooplankton. Hal ini membuka kebarangkalian bahwa jenis material plastik yang digunakan dapat memengaruhi tingkat risiko gangguan ekosistem perairan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa mikroplastik mampu mengubah keseimbangan ekologis yang selama ini menjaga populasi alga tetap terkendali, berakibat meningkatkan potensi terjadinya harmful algal blooms yang dapat merusak kualitas air dan berdampak pada manusia maupun ekosistem makin luas.
Meski demikian, riset mengenai dampak mikroplastik masih terus berkembang. Salah satu peneliti, Profesor Michael Burkart, bersama timnya telah lama mengembangkan plastik yang dirancang agar dapat terurai secara alami di lingkungan.
“Meskipun seluruh benda buatan manusia berdampak pada planet ini, tujuan kami merupakan meminimalkan bahaya ekologis dan kesehatan dari material yang kini ada di mana-mana ini,” kata Burkart.
Ke depan, penelitian akan terus dilakukan demi menguji berbagai jenis plastik biodegradable guna menilai potensinya sebagai alternatif yang makin aman untuk ekosistem perairan.
Penulis: Natasha Suhendra
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

