MediaMerdeka.com – APRIL Group menjadi sorotan sejumlah organisasi masyarakat sekitar sipil setelah menunjuk dua korporasi, PT Industrial Forest Plantation (IFP) dan PT Mayawana Persada, sebagai pemasok baru bahan baku kayu.
Kedua korporasi itu disebut memiliki rekam jejak deforestasi dan konflik lingkungan di lapangan.
Sorotan tersebut mengemuka dalam konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026), yang dihadiri Auriga Nusantara, Greenpeace Indonesia, Save Our Borneo, dan LinkAR Borneo.
Staf Komunikasi dan Advokasi Auriga Nusantara, Vicky Soerjono, mempertanyakan keputusan APRIL yang beriringan bersama perubahan kebijakan internal korporasi terkait batas waktu deforestasi atau cut-off date.
“Kok ada perubahan cut-off date, lalu ada peninjauan kembali komitmen keberlanjutan, lalu ada masuknya dua korporasi yang memang memiliki rekam jejak deforestasi,” kata Vicky.
APRIL diketahui mengubah batas waktu deforestasi dalam kebijakan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) dari tahun 2015 menjadi 31 Desember 2020.
Perubahan ini dikritik lantaran dinilai memperluas ruang masuknya pemasok yang semasih belumnya tidak memenuhi standar.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Refki Saputra, menilai perubahan tersebut membuka celah dalam rantai pasok korporasi.
“Ketika itu diperpanjang, artinya mereka mempunyai ruang yang makin panjang juga demi memperoleh kayu dari lahan-lahan yang telah terdeforestasi sampai 2020,” terangnya.
Selain itu, Greenpeace juga kembali menyoroti dugaan adanya keterhubungan sejumlah korporasi dalam lingkaran bisnis Royal Golden Eagle (RGE), kelompok usaha yang dikaitkan bersama keluarga Sukanto Tanoto, orang terkaya nomor satu di Indonesia pada saat ini.
Dalam laporan semasih belumnya, Greenpeace menyebut adanya pola “common control” melalui kesamaan manajemen, operasional, hingga keterkaitan keuangan di sejumlah entitas bisnis yang berada dalam ekosistem RGE.
“Tidak dapat ditunjuk secara legal kepemilikan langsung, namun ada pengendalian manajemen, operasional, dan keuangan,” kata Refki.
Sukanto Tanoto sendiri kembali disebut dalam konteks latar belakang grup usaha RGE. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index per Juni 2026, ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia bersama kekayaan sekitar US$24,9 miliar atau setara Rp443 triliun.
Hingga kini, APRIL masih belum menyerahkan tanggapan resmi atas kritik yang disampaikan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

