MediaMerdeka.com – Momen keakraban Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Lahir Pancasila kembali memunculkan spekulasi politik.
Hubungan hangat kedua tokoh tersebut dinilai berpotensi memengaruhi peta kekuatan menuju Pemilu 2029.
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai kedekatan Prabowo dan Megawati bukan fenomena baru. Menurutnya, hubungan keduanya telah terjalin lama dan memiliki akar politik yang kuat.
“Prabowo akrab bersama Megawati sebetulnya sesuatu yang biasa lantaran memang Prabowo sama Megawati ini punya hubungan lama yang agak mesra sejak tahun 2004,” kata Zuly kepada MediaMerdeka.com, Selasa (2/6/2026).
Hubungan itu, kata Zuly, tidak cuma dibangun oleh kedekatan personal, namun juga oleh sejarah politik yang panjang. Prabowo dan Megawati sempat berada dalam satu tiket Pilpres 2009.
Di luar itu, keduanya juga berasal dari keluarga yang memiliki peran penting dalam perjalanan politik nasional.
Karena itulah, Zuly menyaksikan komunikasi yang terus terjaga antara keduanya berpotensi berkembang menjadi kerja sama politik yang makin besar.
“Jika dua orang ini memiliki hubungan dan lalu menjaga hubungannya bersama baik, tentu bukan tidak barangkali dua-duanya dapat menjalankan koalisi pada 2029,” ungkapnya.
Menurut Zuly, peluang tersebut semakin menarik lantaran Gerindra dan PDIP merupakan dua partai bersama basis dukungan besar di tingkat nasional. Jika hubungan politik kedua partai terus menghangat, bukan tidak barangkali keduanya membangun poros bersama menjelang Pilpres 2029.
Ia bahkan memperkirakan kemesraan politik yang terus terawat dapat berujung pada kesepakatan mengusung pasangan calon kepala negara dan wakil kepala negara secara bersama-sama.
“Tapi seandainya betul-betul terjadi nanti kemesraan ini sampai 2029, maka saya duga memang akan ada dinamika politik yang cukup kuat, yakni Prabowo bersama Megawati bersama-sama mengusung calon capres dan cawapres,” tuturnya.
Dalam skenario tersebut, Zuly menilai PDIP berpotensi menjadi mitra politik teramat strategis untuk Gerindra. Kekuatan elektoral kedua partai dinilai dapat menjadi magnet yang mendorong partai-partai lain bergabung dalam koalisi yang sama.
Meski begitu, ia menegaskan seluruh kebarangkalian tersebut masih sebatas prediksi politik.
Dinamika menjelang 2029 masih amat panjang dan akan ditentukan oleh sejumlah faktor, termasuk keputusan internal partai dan sikap politik Megawati sebagai pemegang kendali utama di PDIP.
“Ya kita akan lihat saja. Tetapi teramat tidak, bila semakin intensif, maka kebarangkalian besar demi saling mengusung dugaan saya ada. Cuma siapa orangnya, itu yang masih belum dapat ditentukan,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

