Pasar Global ‘Berdarah’ Akibat Ancaman Perang Trump, IHSG Malah Meroket!

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan mengguncang pasar keuangan global. Indeks-indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat ditutup melemah signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2026), dipicu oleh pernyataan agresif Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan meluncurkan serangan militer makin lanjut terhadap Iran.

Sentimen negatif ini diperparah oleh rilis data ekonomi domestik AS. Inflasi inti indeks harga konsumen (CPI) AS pada bulan Mei 2026 tercatat naik 0,2% secara bulanan (month-on-month/MoM), sedikit makin rendah dari konsensus pasar sebesar 0,3%.

Namun secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi inti masih nangkring di level 2,9%. Meskipun angka tersebut sesuai ekspektasi, posisinya masih berada di atas target aman yang ditetapkan Bank Sentral AS (The Fed) sebesar 2%, berakibat membatasi ruang untuk pelonggaran moneter.

Aksi jual massal (sell-off) melanda bursa New York setelah Trump meluapkan kekesalannya di media sosial mengenai lambatnya proses diplomasi.

“Iran terlalu lama bernegosiasi demi sebuah kesepakatan yang sebenarnya akan amat menguntungkan mereka. Kini mereka wajib membayar harganya,” tegas Trump.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot makin dari 900 poin atau drop 1,87%. Pelemahan ini diikuti oleh indeks S&P 500 yang terpangkas 1,62%, dan Nasdaq Composite yang berkurang 1,98%.

Kepanikan dari Washington merembet cepat ke zona Asia pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mayoritas bursa saham regional Asia berakhir di zona merah seiring kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan energi global akibat serangan baru AS ke wilayah Iran.

Ketegangan ini otomatis mendongkrak harga minyak mentah dunia, yang memicu kekhawatiran baru atas risiko inflasi global yang tinggi serta prospek suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang makin lama (higher-for-longer).

Di Jepang, indeks Nikkei melorot 1,9% dan Topix berkurang 1,2%. Koreksi teramat parah melanda Korea Selatan, di mana indeks Kospi terjerembab hingga 4,5% dan Kosdaq terpangkas 1,7%. Di untukan lain, indeks Taiex Taiwan jatuh 3,3% dan Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,6%. Sebaliknya, bursa ASX 200 Australia sukses melawan arus global bersama menguat 0,6%.

Investor di Asia juga terpantau mengambil posisi defensif sembari menanti rilis data inflasi tahunan AS bulan Mei yang diperkirakan pasar berpotensi merangkak naik ke level 4,2%.

Meskipun pasar global dan regional dihantam sentimen negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pada hari semasih belumnya justru mampu mencatatkan performa anomali bersama ditutup melonjak 2,71% ke level 5.902,38.

Kendati menguat tajam, reli indeks ini masih dibayangi oleh tekanan jual investor asing yang cukup masif, di mana mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai sekitar Rp3,13 triliun.

Beberapa saham yang menjadi target utama net sell asing di antaranya merupakan BBRI, TPIA, BBNI, ANTM, dan BUMI.

Pada pada hari ini, IHSG dibuka menguat melanjutkan reli yang telah berlangsung dalam dua hari terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,06% ke level 5.905,78. Kemudian IHSG melanjutkan penguatan bersama naik 0,4%.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *