MediaMerdeka.com – Berbagai elemen organisasi masyarakat sekitar sipil mengadakan aksi demonstrasi damai bersama konsep satire yang unik di depan Gedung Keaparatur negara kementerianan Keuangan (Kemenkeu), Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).
Aksi teatrikal yang dimengawali pada pukul 11.30 WIB tersebut dilangsungkan sebagai bentuk penolakan keras terhadap rencana perumusan regulasi baru mengenai penambahan lapisan (layer) dalam struktur Tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT).
Jalaran massa aksi yang memadati area trotoar tersebut berasal dari aliansi lintas organisasi yang bernaung di bawah koalisi Save Our Surroundings (SOS).
Beberapa di antaranya meliputi Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), serta Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI).
Di tengah berjalannya aksi, para aktivis memamerkan instalasi kreatif yang menyerupai lapak pedagang rokok eceran, lengkap bersama replika papan figur (manekin) berukuran manusia dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa serta Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun.
Tak ketinggalan, massa juga membentangkan berbagai poster dekoratif yang memuat narasi sindiran tajam. Kalimat yang dipampang di antaranya berbunyi, “Ini rokok mesin teramat murah (Purbaya, 26 Januari 2026)” serta “Gak ada yang mati lantaran rokok (Misbakhun, 22 Januari 2026)”.
Pemasangan atribut visual ini sengaja ditujukan sebagai instrumen kritik terhadap wacana pembaruan tarif fiskal cukai, yang dinilai para aktivis justru akan memperlebar ruang untuk peredaran produk tembakau bersama harga murah di pasaran.
Kebijakan ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan angka perokok di kalangan kalangan anak, menguras anggaran sistem penjaminan kesehatan nasional, dan menambah beban finansial jangka panjang untuk masyarakat sekitar prasejahtera.
Kebijakan CHT Baru Dinilai Kontraproduktif untuk SDM
Project Lead for Tobacco Control CISDI, Beladenta Amalia, menggarisbawahi bahwa draf penambahan lapisan tarif baru pada cukai hasil tembakau ini amat berseberangan bersama program strategis perlindungan kesehatan publik dan visi pembangunan jangka panjang pihak pemerintah.
“Aksi Program Rokok Murah Nasional ini merupakan sindiran terhadap rencana penambahan lapisan baru cukai rokok yang kontraproduktif terhadap tujuan fiskal, kesehatan masyarakat sekitar, dan pembangunan sumber daya manusia,” cetus Beladenta Amalia saat menyerahkan pernyataan di lokasi aksi.
Hingga menjelang tengah hari, jumlah massa yang terkumpul di titik demonstrasi terpantau berkisar sekitar 20 orang.
Demonstrasi bernuansa seni kritik ini direncanakan terus bergulir bersama agenda penyampaian orasi secara bergantian hingga melewati momentum jam istirahat siang, demi menarik atensi dari para pegawai keaparatur negara kementerianan serta publik yang melintas.
Guna menjaga ketertiban umum di sekitar objek vital negara, jajaran aparat keamanan dari Kepihak kepolisianan Resor (Polres) Metro Jakarta Pusat bersama Kepihak kepolisianan Sektor (Polsek) setempat disiagakan di sepanjang koridor pintu masuk utama Keaparatur negara kementerianan Keuangan.
Pengamanan ketat di lapangan dilakukan oleh puluhan personel gabungan demi mengawal jalannya penyampaian aspirasi agar tetap berada dalam koridor hukum dan situasi yang kondusif.
“Total 35-an yang berjaga di sini, ada dari polres dan polsek,” tutur salah satu personel kepihak kepolisianan yang mengawal keamanan di gerbang masuk Kemenkeu, Bripda Razim.
Reporter: Tsabita Aulia
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

