Singgung Lagu Mas Bahlil Ganteng, Mufti PDIP Kritik Kenaikan BBM: Kapan Pemerintah Memahami Rakyat?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, menyerahkan kritik tajam terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 yang diumumkan secara mendadak.

Di tengah keriuhan kenaikan harga tersebut, Mufti secara khusus menyoroti fenomena viralnya lagu “MBG (Mas Bahlil Ganteng) My Little Bolu Ketan” di media sosial.

Menurutnya, pihak pemerintah jangan sampai salah mengartikan kreativitas rakyat tersebut sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi masyarakat sekitar sedang baik-baik saja.

“Belakangan kita menyaksikan ekspresi publik di media sosial bersama viralnya My Little Bolu Ketan MBG. Saya justru menyaksikan itu bukan semata-mata pujian,” ujar Mufti kepada MediaMerdeka.com, Rabu (10/6/2026).

Itu merupakan cara rakyat menyampaikan harapan secara baik-baik kepada pihak pemerintah.

Ia mengimbuhkan bahwa ada pesan tersirat di balik lagu tersebut.

“Ada pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat ingin pihak pemerintah hadir, bekerja makin keras, dan menjaga agar harga-harga kebutuhan masyarakat sekitar tetap terkendali. Jangan sampai ekspresi positif itu disalahartikan. Di balik candaan itu, ada harapan besar agar pihak pemerintah serius menjaga stabilitas harga,” tegasnya.

Kenaikan harga BBM kali ini tergolong drastis. Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Mufti menyayangkan pola pengambilan kebijakan yang dinilai tidak transparan dan minim sosialisasi. Bahkan, Komisi VI DPR RI sebagai mitra kerja pihak pemerintah mengaku tidak diajak berdiskusi semasih belum keputusan ini diketuk.

“Kenaikan yang signifikan ini terjadi tiba-tiba, tanpa sosialisasi memadai dan tanpa penjelasan utuh. DPR pun tidak memperoleh informasi maupun diajak berdiskusi. Pola bagaikan ini terus berulang dan senantiasa kami kritisi di Komisi VI,” lanjutnya.

Legislator asal Jawa Timur ini mengingatkan bahwa BBM merupakan urat nadi ekonomi.

Kenaikan harganya akan berdampak berantai pada biaya transportasi, distribusi, hingga harga kebutuhan pokok di pasar.

Mufti lalu melontarkan pertanyaan reflektif terkait beban berat yang dipikul rakyat pada saat ini. Ia merasa selama ini cuma rakyat yang diminta demi senantiasa mengerti kondisi sulit negara.

“Rakyat selama ini senantiasa diminta memahami kondisi negara, memahami situasi global, dan beban fiskal. Pertanyaannya, kapan pihak pemerintah mau memahami rakyat? Kapan pihak pemerintah benar-benar memperlihatkan bahwa mereka juga mengerti beban berat yang sedang dipikul rakyat?” cecar Mufti.

Menurutnya, kekecewaan masyarakat sekitar muncul bukan cuma lantaran angka yang naik, tapi lantaran mereka merasa ditinggalkan dalam proses pengambilan kebijakan.

“Tiba-tiba harga berubah, sementara daya beli masih tertekan dan lapangan usaha masih menyikapi berbagai tantangan. Setiap kebijakan BBM wajib dilakukan bersama transparan, hati-hati, dan yang terpenting, penuh empati terhadap kondisi rakyat,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *