MediaMerdeka.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengungkap pihak pemerintah mengawali mendorong pengolahan timbunan sampah lama di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi bahan bakar minyak (BBM) memakai teknologi pirolisis.
Langkah tersebut menjadi untukan dari percepatan program pengolahan sampah nasional yang kini tidak cuma berfokus pada produksi listrik dari sampah baru, namun juga pemanfaatan sampah lama yang telah menggunung di sejumlah daerah.
Hal itu disampaikan Zulhas usai rapat koordinasi terbatas percepatan implementasi pengolahan sampah menjadi energi di Kantor Kemenko Bidang Pangan di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
“Kita sedang memasuki transformasi besar dalam pengolahan sampah. Kalau semasih belumnya sampah diolah menjadi energi listrik, kini kita dorong timbunan sampah di TPA diubah menjadi BBM terbarukan melalui teknologi pirolisis,” kata Zulhas.
Menurut dia, selama ini pihak pemerintah makin sejumlah membahas konsep waste to electricity atau pengolahan sampah baru menjadi listrik memakai teknologi insinerator.
Namun, kini pihak pemerintah mengawali memfokuskan penanganan terhadap timbunan sampah lama.
“Nah, ini yang kita rapatkan senantiasa biasanya yang ujung, yang waste to electricity, sampah diubah menjadi listrik,” ujarnya.
Zulhas menerangkan teknologi pirolisis berbeda bersama konsep waste to energy. Jika waste to energy memanfaatkan sampah baru demi menghasilkan listrik, maka pirolisis digunakan demi mengolah sampah lama yang telah menumpuk bertahun-tahun di TPA.
“Kalau yang waste to energy kan sampah yang baru diolah jadi listrik. Nah, kita ini telah punya sampah yang menggunung setinggi 16 gedung ya,” ucapnya.
Ia mencontohkan kawasan Bantar Gebang dan sejumlah daerah lain yang memiliki timbunan sampah amat tinggi akan menjadi sasaran program tersebut.
“Lah, itu kini yang pakai pirolisis yang tinggi-tinggi itu akan diolah menjadi BBM. Nah, diubah menjadi BBM, namanya teknologinya pirolisis,” kata Zulhas.
Ia menyebut, telah ada sejumlah daerah yang disiapkan demi implementasi teknologi tersebut, termasuk Bandung dan Bali.
“Ada di Bantar Gebang, ada di Bandung, ada di Bali,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

