MediaMerdeka.com – Industri herbal Indonesia mengawali naik kelas bersama mengandalkan riset dan hilirisasi. Dengan kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia setelah Brasil, Indonesia dinilai memiliki modal kuat demi keluar dari ketergantungan sebagai pemasok bahan baku semata.
Pasalnya, pasar herbal medicine global diproyeksikan terus tumbuh hingga mencapai USD 600 miliar pada 2030. Momentum ini dinilai menjadi peluang besar untuk Indonesia demi membangun industri obat modern alami berstandar global.
Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica, Raymond R Tjandrawinata menyebutkan, kesuksesan China dan India membangun industri herbal modern tidak cuma ditopang kekayaan alam, namun juga integrasi sistem kesehatan dan penguatan riset.
“Indonesia memiliki biodiversitas terbesar kedua di dunia. Langkah setelah itu merupakan membangun sistem kesehatan yang mengintegrasikan obat berbasis biodiversitas alam ke dalam layanan kesehatan formal, sebagaimana China dan India telah membuktikannya,” ujar Raymond di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ia menerangkan, China sukses mengangkut Traditional Chinese Medicine (TCM) menjadi untukan integral sistem rumah sakit nasional hingga diterima sebagai global herbal drug. Sementara India membangun ekosistem Ayurveda melalui rumah sakit, riset, dan uji klinis berskala nasional.
Menurut Raymond, Indonesia sebenarnya memiliki fondasi yang sama kuatnya bersama makin dari 30.000 spesies tanaman obat yang tersebar di berbagai wilayah.
Melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Dexa Group mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) berbasis evidence-based medicine. Pengembangan dilakukan melalui riset, standardisasi bahan alam, hingga uji klinis demi mengonfirmasi efikasi dan keamanan produk.
“Kami telah mengekspor fitofarmaka Indonesia ke sejumlah negara bagaikan Filipina dan Kamboja. Tenaga medis di sana memakai dan merekomendasikan produk Indonesia lantaran standar internasional, efikasi, dan safety-nya telah terbukti,” jelas Raymond.
Tak cuma demi terapi promotif dan preventif, Dexa juga mengawali mengembangkan terapi kuratif berbasis bahan alam. Beberapa di antaranya meliputi imunomodulator demi penguatan sistem imun, terapi herbal demi wanita bersama polycystic ovarian syndrome (PCOS), hingga terapi pendukung pemulihan stroke.
Langkah tersebut dinilai menjadi untukan dari upaya hilirisasi industri herbal nasional agar Indonesia tidak lagi cuma dikenal sebagai pemasok bahan mentah tanaman obat, melainkan produsen obat modern alami bersama nilai tambah tinggi.
“China dikenal lantaran TCM. India dikenal lantaran Ayurveda. Harapannya, dunia mengenal Indonesia lantaran kemampuan kita mengubah biodiversitas menjadi obat modern yang diterima secara global,” pungkas Raymond.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

