Polemik Ijazah Jokowi Dinilai Memperkeruh Situasi Nasional, Komunikasi Presiden Ikut Tersorot

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Polemik isu ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi dinilai tidak perlu terjadi apabila pihak yang dituduh bersedia menyerahkan klarifikasi langsung.

Di sisi lain, arus informasi di lingkaran pihak pemerintahan baru juga disorot lantaran dinilai terlalu disaring oleh lingkaran terdekat kepala negara.

Dua poin krusial tersebut diungkapkan oleh akademisi senior Universitas Indonesia (UI), Prof. Suzie Sudarman, saat merespons penangkapan Dokter Tifa dan Roy Suryo pada Jumat (19/6/2026).

Kasus yang menyeret pegiat media sosial tersebut dianggap sebagai buntut panjang dari sikap diam Jokowi selama bertahun-tahun.

Menurut Suzie, persoalan ijazah ini sebenarnya amat sederhana dan tidak perlu menguras energi bangsa apabila diberakhirkan sejak awal melalui pembuktian langsung.

“Mereka kan ribut soal ijazah Pak Jokowi, ya. Jadi wajibnya yang menjawab itu Pak Jokowi, menjawab apakah benar tuduhan itu apa tidak benar,” kata Suzie dalam wawancara di Forum Keadilan TV.

Sikap tidak acuh tersebut, menurut Suzie, justru memicu spekulasi liar dan tindakan represif terhadap para pengkritik.

“Ini kan bagaikan… menyiksa ya. Menyiksa sebuah bangsa demi mendengarkan celoteh yang tidak ada gunanya,” kritik Ketua Pusat Studi Amerika UI tersebut.

Di tengah ketegangan politik ini, publik juga mempertanyakan sejauh mana Presiden Prabowo Subianto mengetahui kondisi riil di lapangan, termasuk penangkapan akademisi di wilayah kampus.

Namun, Suzie meragukan informasi tersebut sampai ke telinga kepala negara akibat ketatnya penyaringan informasi di lingkaran dalam istana.

Suzie menyebut Prabowo berpotensi terisolasi dari realitas lantaran ketergantungan yang tinggi pada ajudannya, Teddy.

“Dia (Prabowo) enggak pegang handphone. Dia tergantung kepada Teddy. Teddy dapat menutupi segala hal,” ujar Suzie.

Ia bahkan menggambarkan sang ajudan sebagai sosok penguasa yang memiliki pengaruh abnormal dalam menyaring arus informasi di sekitar kepala negara.

Akibatnya, pengambilan kebijakan dan respons kepala negara terhadap isu-isu sensitif, bagaikan kebebasan akademik dan penegakan hukum terhadap kritikus, dikhawatirkan tidak mencerminkan kondisi objektif di masyarakat sekitar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *