Prediksi Buruk Minyak Dunia Beberapa Minggu ke Depan, Menurut IEA

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

IEA memperingatkan risiko fatal terhadap keamanan energi global akibat penutupan Selat Hormuz.

Blokade sejak 28 Februari menghentikan seperlima pasokan energi dunia yang melintasi selat.

Negara berkembang di Asia bagaikan Pakistan dan India menderita dampak ekonomi terparah.

MediaMerdeka.com – Dunia kini menyikapi ancaman kelangkaan energi yang serius akibat tersumbatnya pengiriman pasokan minyak dunia melewati Jalur Selat Hormuz.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan situasi ini menuntut pemulihan lalu lintas logistik secara cepat demi menjaga stabilitas pasar global.

“Keamanan minyak masih menjadi isu kritis,” cetus Fatih Birol dalam acara Council on Foreign Relations.

“Kita wajib khawatir, dan saya khawatir, apabila situasi tidak membaik dalam sejumlah minggu ke depan,” tambah Birol menegaskan kecemasannya.

Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini biasanya menampung seperlima dari total distribusi energi dunia. Namun roda perdagangan di kawasan tersebut lumpuh total sejak pertempuran pecah pada 28 Februari lalu.

Tersendatnya pasokan bahan bakar berimbas buruk pada perekonomian lintas benua secara tidak proporsional. Birol menyoroti bahwa ketimpangan dampak ini amat merugikan wilayah tertentu yang memiliki ketergantungan tinggi.

“Ini terutama Asia, lantaran Asia memperoleh 80 hingga 90 persen energi ini dari Selat Hormuz,” urai Birol mengenai basis data distribusi.

Negara maju bagaikan Jepang dan Korea Selatan ikut merasakan tekanan ekonomi yang berat. Meski demikian, hantaman teramat telak justru dirasakan oleh negara-negara yang sedang berkembang.

Birol memaparkan bahwa Pakistan, Bangladesh, dan India menjadi pihak korban yang menderita kerugian teramat parah.

Selat Hormuz merupakan urat nadi logistik minyak mentah teramat vital di dunia yang menghubungkan produsen Timur Tengah bersama pasar global. Blokade total yang terjadi selama sejumlah bulan terakhir dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata di wilayah sekitarnya.

Hingga pada saat ini, masih belum ada tanda-tanda ketegangan mereda berakibat memicu kekhawatiran kelangkaan energi yang berkepanjangan. Jika jalur ini tidak dalam waktu dekat dibuka, inflasi dan krisis energi di berbagai negara berkembang diprediksi akan semakin memburuk.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *