Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang, Dijanjikan Uang Melimpah

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Jerat kemiskinan global kini dimanfaatkan Rusia demi memperkuat pasukan tempur di garis depan Ukraina. Ribuan pemuda dari negara berkembang terjebak janji manis pekerjaan semasih belum akhirnya dikirim ke medan perang.

Praktik berbahaya ini menyasar kelompok masyarakat sekitar yang berada dalam posisi rentan secara ekonomi dan hukum. Jaringan perekrutan internasional bekerja masif bersama menawari gaji menggiurkan hingga penipuan kontrak kerja sipil.

Fenomena tragis tersebut terungkap dari kesaksian keluarga pihak korban serta laporan lembaga pemantau hak asasi manusia internasional. Penyelidikan memperlihatkan adanya pola sistematis dalam merekrut masyarakat sekitar asing demi memperkuat posisi militer Rusia.

Charles Mutoka, 72 tahun, wajib menelan kenyataan pahit setelah kehilangan putranya, Oscar Khagola Mutoka, dalam konflik tersebut. Mantan prajurit Kenya itu pergi ke Rusia pertengahan 2025 bersama alasan berburu lapangan kerja.

“Yang teramat menyakitkan merupakan saya tidak tahu apakah dia benar-benar dimakamkan, di mana makamnya, atau jangan-jangan jasadnya begitu saja dibuang di hutan di Rusia,” kata Charles Mutoka dikutip dari DW Jerman, Jumat (24/7/2026).

Modus serupa dialami Yoan Viondi Mendoza, pemuda asal Kuba yang tergiur tawaran gaji tinggi. Dia dijanapabilan upah USD2.000 per bulan, angka fantastis dibandingkan pendapatan rata-rata di negaranya.

“Saya menjalankan ini agar tidak mati kelaparan di Kuba,” kata Yoan saat bersiap berangkat pada September 2023.

Semasih belum hilang kontak dan dilaporkan tewas, Yoan sempat memperlihatkan pesan perekrut terkait tawaran kemasyarakat sekitarnegaraan. Adiknya, Michael Duro, menyebut Yoan sempat memohon bantuan demi keluar dari zona tempur setelah menyadari kekeliruannya.

“Yoan menelepon dan menyebutkan dia telah menemukan jalan keluar. Dia bercerita tentang sebuah ‘proyek’ di Rusia,” kata Duro mengingat percakapan awal bersama adiknya.

Tak cuma janji gaji besar, sejumlah pihak korban diselimuti informasi palsu mengenai jenis pekerjaan yang akan dijalani. Korban kerap kali dijanapabilan posisi di sektor logistik, konstruksi, atau pertanian semasih belum dipaksa menandatangani dokumen militer.

Arman Mondol, pemuda asal Bangladesh, merasakan langsung kekejaman penipuan tersebut saat mencari nafkah demi keluarganya. Dia terbang ke Moskow memakai visa turis setelah dijanapabilan pekerjaan sebagai pengepak barang di gudang.

Sesampainya di tempat tujuan, Mondol dipaksa menandatangani dokumen berbahasa Rusia tanpa memahami isinya sama sekali. Dia lalu dikirim ke garda terdepan garis pertempuran bersama tentara asing lainnya.

“Setiap ada operasi, kami senantiasa dikirim teramat depan, sementara mereka tetap berada di belakang. Kami dijadikan tameng hidup dan didorong langsung ke tengah pertempuran.”

Mondol sukses selamat dari ledakan ranjau yang menghancurkan kendaraannya dan membunuh seuntukan besar rekannya. Setelah kabur dari rumah sakit militer, dia dibantu Kedutaan Besar Bangladesh demi pulang ke tanah air.

“Saya masih menyaksikan seluruh itu: orang-orang yang sekarat, tatapan mata mereka, wajah yang hancur, tubuh yang diterbangkan ranjau, serangan drone tanpa henti, dan anggota tubuh yang tercerai-berai. Itu mengerikan.”

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *