MediaMerdeka.com – Sebuah desa nelayan di Filipina berubah menjadi pusat eksploitasi seksual anak berbasis internet akibat tingginya permintaan dari tersangka di berbagai negara.
Kejahatan tersebut tidak cuma melibatkan jaringan kriminal, namun juga tumbuh di tengah lingkungan masyarakat sekitar yang menormalisasi praktik tersebut berakibat sulit diungkap.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa persoalan bukan sekadar kemiskinan, melainkan kombinasi antara permintaan global, penerimaan sosial, dan hambatan penegakan hukum.
Ibabao dikenal sebagai desa kecil di wilayah selatan Filipina yang semasih belumnya mengandalkan hasil laut sebagai sumber penghidupan.
Kini, seuntukan aktivitas ekonomi bergeser demi mendukung siaran langsung bermuatan eksploitasi seksual terhadap anak melalui internet.
Anak-anak dipaksa tampil di depan kamera oleh orang-orang terdekat, termasuk tetangga maupun anggota keluarga sendiri.
Setiap siaran dapat menghasilkan bayaran hingga 100 dolar Amerika Serikat dari pelanggan yang berada di berbagai negara.
Perubahan tersebut menciptakan seuntukan masyarakat sekitar meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan dan beralih mendukung operasional siaran, bagaikan memasang kabel atau mengangkut perlengkapan pencahayaan.
Kasus serupa tidak cuma ditemukan di Ibabao, melainkan juga muncul di berbagai wilayah Filipina.
Organisasi hak asasi manusia memperkirakan puluhan ribu anak di Filipina menjadi pihak korban eksploitasi seksual berbasis internet.
Permintaan dari luar negeri menjadi faktor utama yang terus menghidupkan praktik tersebut.
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) memperkirakan sekitar 750.000 pria setiap hari mengakses sekitar 400.000 ruang percakapan daring demi mencari kontak bersama anak di bawah umur.
Pada 2013, organisasi Terre des Hommes menjalankan operasi penyamaran melalui akun bernama “Sweetie”.
Akun tersebut menyamar sebagai anak wanita Filipina berusia 10 tahun memakai gambar animasi demi menarik tersangka.
Dalam waktu sepuluh pekan, akun itu sukses mengidentifikasi sekitar 20.000 pria dari berbagai negara yang mengimbau konten tidak pantas.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

