Sampurna Mati Tragis, Pakar UGM Sebut Kematian Satwa Karhutla Cuma Sebagian Kecil Realita

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Angka kematian satwa liar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan diyakini jauh makin besar dibandingkan data resmi yang selama ini sukses dicatat oleh pihak pemerintah maupun lembaga terkait.

Terbaru ada orang utan jantan bernama Sampurna yang sempat ditemukan lemas dan merasakan gangguan pernapasan di kawasan perkebunan kelapa sawit, Ketapang, Kalimantan Barat, sejumlah waktu lalu akhirnya mati pada Selasa (1/9/2026).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, Raden Wisnu Nurcahyo menilai bahwa evakuasi dan pencatatan pihak korban selama ini memiliki keterbatasan akses yang nyata di lapangan.

“Pencatatan pihak korban orang utan lantaran kebakaran ini kan cuma mencakup individu yang kebetulan ditemukan atau sukses dievakuasi, dapat jadi jumlahnya barangkali makin sejumlah lagi,” kata Wisnu, Jumat (4/9/2026).

Fenomena ini terbukti dari temuan-temuan di lapangan yang cuma mengandalkan faktor kebetulan. Seuntukan besar satwa yang terdata umumnya merupakan individu yang terdesak keluar hingga ke pinggir jalan, area perkebunan kelapa sawit, atau dekat permukiman masyarakat sekitar berakibat mudah terdeteksi oleh tim penyelamat.

Sementara itu, satwa yang terjebak di zona inti hutan yang terbakar mustahil dapat terpantau apalagi dievakuasi tepat waktu.

Kematian Sampurna cumalah segelintir contoh dari ancaman mematikan yang diakibatkan oleh karhutla terhadap satwa liar di habitat aslinya.

Amukan api tidak cuma menghancurkan vegetasi yang menjadi sumber pangan dan tempat berlindung. Lebih dari itu secara langsung mengancam kesehatan hingga merenggut nyawa satwa secara perlahan dan menyiksa.

“Kebakaran itu kan mengacaukan pohon, tanaman, sementara tanaman itu sumber pakan, dan pohon-pohon itu tempat bersarangnya mereka (orangutan),” ujarnya.

Kerusakan habitat yang masif tersebut memaksa orang utan mengubah jalur pergerakan alami atau home range mereka. Pohon-pohon tempat bergelantungan yang hangus terbakar mendorong satwa primata ini turun ke permukaan tanah.

Mereka lantas mendekati area aktivitas manusia demi mencari pakan, yang pada akhirnya memicu risiko kelaparan, dehidrasi, luka bakar, hingga konflik mematikan.

“Karhutla ini memaksa orang utan turun ke tanah lantaran tempat mereka bergelantungan (pohon-pohon) habis terbakar. Kadang-kadang lantaran sumber pakan tidak ada, ya dia mencari makanan di dekat pemukiman atau kebun masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Tidak cuma bahaya fisik dari kobaran api, paparan asap hasil pembakaran hutan dan gambut yang sarat akan karbon monoksida serta senyawa toksik menjadi pembunuh senyap untuk satwa liar.

Hirupan udara beracun tersebut merusak organ pernapasan, menyebabkan bronkitis, hingga memicu hipoksia atau kondisi kritis kekurangan oksigen dalam tubuh.

“Kalau kita menghirup udara yang kualitasnya buruk, ya ini dapat berdampak pada gangguan pernapasan. Gangguan pernapasan inilah yang lalu dapat menciptakan kita lemas, muntah, kesadaran terganggu hingga akhirnya pingsan. Pingsan bila dibiarkan terus, ya dapat mati,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *