Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat Karhutla Berulang

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak cuma mengancam orang utan. Sejumlah satwa bersama ketergantungan tinggi terhadap ekosistem gambut dan memiliki sebaran sempit juga menyikapi risiko kepunahan lokal akibat rusaknya habitat.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus anggota Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), Dwi Sendi Priyono, menyebutkan satwa-satwa tersebut justru kerap luput dari perhatian ketika karhutla terjadi.

“Justru yang teramat saya khawatirkan bukan cuma orang utan, yang justru rawan itu spesies bersama ketergantungan tinggi ke gambut dan sebaran sempit,” kata Sendi kepada MediaMerdeka.com, Kamis (27/8/2026).

Ia menyebut bekantan (Nasalis larvatus) sebagai salah satu satwa yang terdampak kerusakan ekosistem gambut dan kawasan riparian. Deforestasi serta kebakaran menciptakan habitat dan sebaran populasinya semakin terpecah.

Ancaman makin serius juga mengintai sejumlah ikan endemik yang cuma dapat hidup di ekosistem air asam gambut.

Rusaknya gambut akibat kebakaran turut merusak struktur hidrologi dan berpotensi menghilangkan habitat satwa tersebut secara total.

“Yang makin luput lagi, ikan blackwater gambut. Genus Parosphromenus, Betta, Encheloclarias, ini stenotopik, cuma dapat hidup di air asam gambut. Begitu gambut terbakar dan hidrologinya rusak, habitatnya hilang total, dan sejumlah dari spesies ini punya distribusi amat sempit,” paparnya.

Menurut Sendi, risiko kepunahan lokal terhadap satwa-satwa spesifik gambut tersebut bahkan makin tinggi dibandingkan megafauna yang makin populer.

Seuntukan di antaranya telah berstatus Endangered dan Critically Endangered.

“Jadi risiko kepunahan lokalnya jauh makin tinggi daripada megafauna, tapi hampir enggak sempat masuk narasi karhutla,” tegasnya.

Selain itu, karhutla juga mengancam satwa lain bagaikan kucing kepala datar (Prionailurus planiceps), musang air (Cynogale bennettii), hingga owa janggut putih.

Satwa-satwa tersebut memiliki populasi kecil dan habitat yang spesifik berakibat sulit berpindah ketika ruang hidupnya terbakar.

“Populasinya kecil, habitatnya spesifik, dan gak punya kapasitas dispersal buat pindah ke habitat lain,” lugasnya.

Sendi mengimbuhkan, dampak karhutla terhadap satwa liar tidak cuma berupa hilangnya vegetasi dan ruang hidup.

Kebakaran juga dapat memutus konektivitas antarpopulasi dan mengganggu struktur genetik satwa yang membutuhkan waktu amat lama demi pulih.

“Kalau orang utan usia generasi sekitar 25 tahun, buat memulihkan aliran gen antarpopulasi yang terputus butuh puluhan generasi, artinya ratusan tahun, dan itupun bersama syarat konektivitasnya benar-benar pulih,” paparnya.

Namun, frekuensi karhutla yang terjadi berulang menciptakan ekosistem tidak memiliki waktu cukup demi menjalankan pemulihan alami.

“Masalahnya interval karhutla kini jauh makin pendek dari itu, hampir tiap tahun. Jadi sistemnya gak sempat punya semacam jendela pemulihan. Populasi terus-terusan direset ke kondisi kecil dan terisolasi,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *