Selat Hormuz Dibuka Lagi, Pelaku Logistik Minta Tetap Waspadai Gangguan Rantai Pasok Global

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengawali kembali bergerak setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan pada pertengahan Juni 2026. 

Kondisi tersebut memunculkan optimisme terhadap stabilitas perdagangan energi global, setelah jalur strategis tersebut sempat terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, tersangka logistik mengingatkan pulihnya arus kapal tanker masih belum sepenuhnya menghilangkan risiko terhadap rantai pasok global. 

Pasalnya, sejumlah infrastruktur energi di kawasan Teluk masih membutuhkan waktu demi kembali beroperasi secara normal.

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), sekaligus Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, menyebutkan pemulihan aktivitas pelayaran merupakan kabar positif untuk dunia usaha, namun situasi tetap perlu dicermati secara menyeluruh.

“Kembalinya pelayaran tentu kabar baik untuk dunia usaha. Tetapi kita perlu menyaksikan situasi ini secara makin komprehensif. Tantangan pada saat ini bukan cuma soal keamanan jalur pelayaran, melainkan juga kondisi infrastruktur energi yang rusak akibat konflik di kawasan Timur Tengah,” jelas Yukki kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).

Berdasarkan memorandum kesepahaman yang disepakati kedua negara, Iran menyerahkan izin untuk kapal niaga demi melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. 

Semasih belumnya, penutupan jalur tersebut sejak akhir Februari 2026 menyebabkan hampir 600 kapal dan sekitar 20.000 pelaut tertahan di kawasan Teluk.

Gangguan itu berdampak pada sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sekaligus memicu kenaikan biaya logistik, premi asuransi, dan tarif pengiriman internasional.

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran teramat penting di dunia. 

Sekitar seperlima perdagangan minyak global serta seuntukan besar ekspor gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk melewati kawasan tersebut.

“Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, stabilitas Selat Hormuz berhubungan langsung bersama ketersediaan energi, biaya logistik, inflasi, serta daya saing industri,” tambah Yukki.

Saat konflik memanas, harga minyak mentah dunia sempat melonjak. Harga minyak Brent tercatat bertahan di kisaran 106 dolar AS per barel semasih belum akhirnya turun ke level sekitar 77 dolar AS per barel. 

Selain itu, tersangka usaha juga menyikapi kenaikan war risk premium, perubahan rute pelayaran, hingga meningkatnya biaya transportasi internasional.

Menurut Yukki, terdapat satu aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni perbedaan kecepatan pemulihan antara jalur pelayaran dan fasilitas energi.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *