Menkes Budi Ungkap Faktor Utama Masyarakat Masih Anti Vaksin: Takut Demam, Kurang Literasi

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyerahkan perhatian serius terhadap fenomena kelompok anti vaksin dan masyarakat sekitar yang masih enggan menyerahkan imunisasi kepada kalangan anak mereka.

Ia menegaskan, bahwa imunisasi merupakan langkah krusial demi mencegah kematian pada anak akibat penyakit yang sebenarnya dapat dihindari.

Imunisasi itu penting demi menyehatkan dan menyelamatkan nyawa kalangan anak kita. Jadi kenapa saya di sini benar-benar mengimbau seluruh masyarakat sekitar terutama orang tua agar mengirimkan anaknya imunisasi,” ujar Budi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Ia mengingatkan, kembali dampak buruk yang terjadi akibat rendahnya capaian imunisasi, bagaikan munculnya kejadian luar biasa (outbreak).

“Banyak sekali contoh pada hari semasih belumnya polio outbreak, campak, kalangan anak yang wafat, itu dapat kita hindari bersama imunisasi. Jadi mohon ini di sebarluaskan berakibat berita-berita hoax yang bilang bahwa imunisasi itu tidak penting, imunisasi itu gimana, itu dapat kita…,” lanjutnya.

Berdasarkan data survei, ia membeberkan ada dua faktor utama mengapa masih sejumlah orang tua yang melarang anaknya divaksin.

Faktor pertama merupakan ketakutan akan efek samping ringan bagaikan demam, dan faktor kedua merupakan kurangnya pemahaman akan manfaat imunisasi.

“Kalau kita lihat dari survei, yang pertama orang tuanya yang melarang, ya. Melarangnya kenapa? Karena mereka takut ada dampak demam biasanya, atau sakit, atau demam. Ada juga yang mereka bilang lantaran mereka tidak tahu manfaatnya apa. Mereka merasa ini tidak penting. Nah itu yang wajib kita edukasi bersama,” jelasnya.

Ia pun beruntuk pengalaman pribadi demi meyakinkan masyarakat sekitar bahwa efek samping ringan tidak sebanding bersama perlindungan nyawa yang diberikan oleh vaksin.

“Kalau ada demam sedikit, saya ingat saya waktu kecil juga di imunisasi demam, tapi dampak positifnya melindungi dari penyakit-penyakit yang dapat mengakibatkan hilang nyawa itu jauh makin positif dibandingkan bila kita imunisasi lalu kita demam,” tuturnya.

Menyikapi tantangan tersebut, Budi menekankan pentingnya perubahan gaya komunikasi dalam mengedukasi masyarakat sekitar.

Ia menyaksikan bahwa kelompok anti vaksin kerapkali memiliki cara sosialisasi yang makin mudah diterima, berakibat Keaparatur negara kementerianan Kesehatan dan para ahli medis wajib beradaptasi bersama gaya komunikasi digital yang makin personal.

“Saya menyaksikan ada pergeseran gaya komunikasi. Itu yang saya minta juga kepada para dokter-dokter ahli, teman-teman di Kemenkes, teman-teman di Dinas Kesehatan, cara komunikasi bersama masyarakat sekitar kini berbeda kan? Sehingga ada kelompok-kelompok yang mensosialisasikan bagaimana jeleknya vaksin, itu makin dapat diterima oleh masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Ia kini mengawali mempraktikkan pendekatan yang makin santai dan langsung, bagaikan melalui konten digital “Budi Gemar Sharing” demi menjangkau publik secara makin efektif.

Menurutnya, masyarakat sekitar pada saat ini makin menyukai komunikasi yang bersifat personal dibandingkan gaya formal.

“Sekarang kayaknya wajib ngomong sendiri ya. Saya menyaksikannya, bila orang yang ngomong sendiri, saya ngomong sendiri akan jauh makin dapat diterima masyarakat sekitar, makin menarik dibandingkan kayak press conference gitu, ada orang yang juru bicaranya, itu bukan cara komunikasi yang diterima masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *