Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjalankan kunjungan kerja ke China demi meraup utang lewat penerbitan Panda Bond. Padahal semasih belumnya ia sempat menepis pinjaman dari International Monetary Fund (IMF) hingga World Bank (Bank Dunia).

Bagi yang masih belum tahu, Panda Bond merupakan surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh entitas asing, dalam hal ini Pemerintah Indonesia. Surat utang ini diterbitkan di pasar domestik China bersama denominasi mata uang Yuan atau Renminbi (RMB).

Menkeu Purbaya mengakui bila Pemerintah menargetkan penerbitan Panda Bond senilai 1 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 17,8 triliun (kurs Rp 17.801 per Dolar AS). Bahkan dana pinjaman itu dapat makin apabila kondisi makin mebarangkalikan.

“Pertama sih kita targetnya barangkali 1 miliar dolar AS, tapi kita lihat market-nya bagaikan apa, bila market-nya dapat makin besar, kita akan perbesar, tergantung bersama kondisi market-nya,” kata Purbaya, dikutip dari Antara, Jumat (19/6/2026).

Untuk menerbitkan Panda Bond, pihak pemerintah, lembaga multilateral, atau korporasi asing wajib memenuhi ketentuan otoritas keuangan China yakni China People’s Bank of China (PBOC) dan National Association of Financial Market Institutional Investors (NAFMII).

“Waktu pertemuan bersama PBOC, kami diminta menjalankan percepatan pengeluaran izinnya tapi memang dari pihak underwriter-nya masih belum dimasukkan dan pihak PBOC mengimbau agar dalam waktu dekat dimasukkan izinnya berakibat mereka dapat dalam waktu dekat memproses. Jadi dukungan mereka ke rencana ini amat baik,” papar dia.

Berkat dukungan dari PBOC, Purbaya optimistis Panda Bond dapat diterbitkan pada tahun ini. Pemerintah masih mempersiapkan book building atau masa penawaran awal, di mana peminjam dan penjamin mengumpulkan minat dan pesanan dari investor dalam rentang harga tertentu.

“Ini pekan depan telah mengawali book building wajibnya begitu izinnya keluar ya. Jadi dua minggu lagi telah putus barangkali,” ungkap Purbaya.

Purbaya menyebut, alasan Pemerintah menerbitkan PAnda BOnd yakni ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan. Ia tak ingin bergantung pada satu sumber mata uang negara tertentu.

Lebih lagi Indonesia dan China telah memiliki perjanjian bilateral (local currency transaction) yang mempermudah transaksi antara masyarakat sekitar kedua negara.

“Transaksi bersama yuan dapat langsung dikonversi ke rupiah, lantaran perjanjian antara bank sentral Indonesia bersama bank sentral China. Jadi saya akan coba juga, dapat tidak memakai demi memanfaatkan langsung bilateral swap agreement tadi berakibat langsung ke rupiah dan akan mengurangi tekanan terhadap Rupiah juga nantinya,” tegas Purbaya.

Purbaya tolak bantuan utang IMF dan World Bank

April lalu, Menkeu Purbaya sempat menepis bantuan utang dari International Monetary Fund (IMF) dan World Bank atau Bank Dunia saat menjalankan kunjungan kerja ke Amerika Serikat.

Dalam pertemuan itu, Menkeu Purbaya ditanya apakah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih kuat di tengah kondisi gejolak ekonomi buntut perang AS vs Iran, termasuk kenaikan harga minyak.

“Minggu lalu di IMF Spring, sejumlah yang tanya, saya ulangi lagi. ‘Memangnya APBN kita kuat menahan kenaikan harga minyak dunia?’ Saya bilang kuat, pertahanan kita berlapis-lapis,” katannya dalam acara Simposium PT SMI di Ayana Midplaza, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Bendahara Negara beralasan bila dirinya masih memiliki dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) atau kas Pemerintah yang tersimpan di Bank Indonesia sebesar Rp 420 triliun.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *