MediaMerdeka.com – Gelombang serangan udara militer Israel kembali mengguncang ibu kota Beirut dan wilayah Lebanon selatan secara masif. Operasi tempur ini diluncurkan sejumlah jam setelah perintah pengosongan wilayah terbesar diterbitkan sejak kesepakatan gencatan senjata.
Langkah agresif Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tersebut langsung memicu eksodus besar-besaran masyarakat sekitar sipil yang kini terlantar tanpa arah. Situasi di lapangan kian kritis lantaran lokasi penampungan di kota-kota aman dilaporkan telah memakini kapasitas tampung.
Keaparatur negara kementerianan Kesehatan Lebanon menginformasikan sedikitnya 11 orang tewas akibat rentetan bom yang menghancurkan gedung pemukiman. Skala kehancuran tersebar merata mengawali dari pusat kota Tyre hingga pinggiran timur yang berbatasan langsung bersama zona konflik.
Warga setempat menyaksikan kepulan asap raksasa menyerupai jamur membubung tinggi di antara kompleks apartemen padat penduduk. Api yang menyala sejak malam hari merembet cepat ke fasilitas publik dan kendaraan yang terparkir di jalanan.
Evakuasi mandiri terus berjalan di tengah ancaman serangan susulan yang diprediksi akan jauh makin mematikan. Tim penyelamat bahkan terpaksa menghentikan proses evakuasi pihak korban lantaran situasi keamanan yang amat tidak kondusif.
“Kru penyelamat dan pemulihan terpaksa menghentikan pekerjaan mereka lantaran kondisi tetap ‘terlalu berbahaya’ dan para pekerja menyambut baik telepon dari militer Israel yang memperingatkan mereka demi mengevakuasi area tersebut,” kata seorang anggota Hezbollah di Tyre menegaskan kepada BBC, dikutip Jumat (29/5/2026).
Perintah pengosongan teranyar mencakup area di sepanjang selatan Sungai Zahrani yang menjadi rumah untuk ratusan ribu jiwa. Wilayah geografi yang terdampak instruksi militer ini diperkirakan mencapai 14 persen dari total luas daratan Lebanon.
Kondisi tersebut memaksa otoritas lokal Tyre mengalihkan arus pengungsi menuju wilayah utara termasuk ke kota besar Sidon. Kendati demikian, fasilitas penampungan yang tersedia telah tidak mampu lagi menampung gelombang manusia yang terus berdatangan.
Kepala delegasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Lebanon, Agnes Dhur, menyerahkan peringatan keras atas krisis kemanusiaan ini. Agnes Dhur menegaskan:
“Permusuhan yang terus berlanjut menciptakan kondisi yang tidak dapat dipertahankan untuk masyarakat sekitar sipil dan berisiko menimbulkan konsekuensi jangka panjang.”
Trauma mendalam dirasakan oleh masyarakat sekitar sipil yang rumah dan tempat usacuma hancur total akibat konflik berkepanjangan. Banyak masyarakat sekitar yang semasih belumnya bersumpah tidak akan pergi, kini terpaksa mengemas barang berharga mereka demi menyelamatkan nyawa.
Rida, seorang masyarakat sekitar berusia 52 tahun yang memiliki kafe di dekat pantai, membeberkan kepasrahannya. Rida menegaskan:
“Saya pergi ke pelabuhan di samping pantai dan sejumlah orang di sana. Orang-orang mengemas barang-barang mereka. Semua orang ketakutan.”
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, demi memperluas operasi darat di perbatasan. Keputusan tersebut diambil menyusul serangan drone Hezbollah yang menyasar tentara Israel dan pemukiman masyarakat sekitar di wilayah utara.
Kedua belah pihak pada saat ini saling melempar tuduhan terkait pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang disepakati sejak 17 April. Israel berkukuh mempertahankan hak pertahanan diri, sementara Lebanon menilai serangan udara tersebut sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional.
Sejak konflik bersenjata ini pecah pada 2 Maret silam, pihak korban jiwa dari kedua belah pihak terus berjatuhan. Data resmi Keaparatur negara kementerianan Kesehatan Lebanon mencatat 3.213 orang tewas, sementara itu pihak Israel menginformasikan kehilangan 23 tentara dan empat masyarakat sekitar sipil.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

