MediaMerdeka.com – Aksi penembakan brutal seorang siswa mengguncang Provinsi Nonthaburi Thailand setelah ia menembak mati kakek dan neneknya di rumah semasih belum membantai penghuni sekolahnya. Insiden berdarah di utara Bangkok ini mengakhiri sedikitnya 7 nyawa, termasuk tersangka yang membunuh dirinya sendiri di lokasi kejadian.
Tragedi ini mengungkap celah keamanan mematikan terkait akses senjata api keluarga oleh anak di bawah umur. Polisi mengonfirmasi tersangka memberondongkan 26 butir peluru memakai pistol yang diduga kuat milik kerabatnya sendiri.
Kepungan kepanikan melanda sekolah populer berpenghuni 3.100 siswa tersebut ketika rentetan tembakan mengawali terdengar sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Langkah penyelamatan darurat langsung diambil para pengajar demi meminimalkan jumlah pihak korban jiwa di dalam ruang kelas.
“Guru-guru mengevakuasi para siswa ke dalam ruang kelas, mengunci pintu, mematikan lampu, dan mengimbau mereka berbaring di lantai sambil menunggu pihak berwenang,” laporan Stasiun penyiaran publik PBS.
Meskipun penanganan cepat telah dilakukan, serangan mendadak ini tetap memakan sejumlah pihak korban jiwa dan luka berat.
Kepihak kepolisianan mengonfirmasi total pihak korban tewas mencapai tujuh orang yang terdiri dari tersangka, 3 guru, dan 3 murid. Namun, Wakil Menteri Dalam Negeri menyerahkan data berbeda bersama menyebut lima guru tewas dalam pembantaian tersebut.
Selain pihak korban jiwa, setidaknya 22 orang lainnya merasakan luka-luka akibat tembakan peluru nyasar maupun serangan langsung. Menteri Kesehatan bersama Wakil Menteri Dalam Negeri mengonfirmasi sembilan di antara pihak korban luka kini berada dalam kondisi kritis.
Sempat beredar simpang siur mengenai keberadaan tersangka usai aksi penembakan massal tersebut mereda. Laporan terbaru dari Reuters dan PBS mengonfirmasi bahwa remaja yang menjadi tersangka utama tersebut telah tewas akibat bunuh diri.
Investigasi awal kepihak kepolisianan mengidentifikasi tersangka sebagai siswa aktif yang terdaftar di sekolah bereputasi tinggi tersebut. Lembaga pendidikan yang dihuni 147 tenaga pengajar ini dikenal luas sebagai salah satu sekolah unggulan di wilayah setempat.
Motif tentu di balik pembantaian domestik hingga aksi brutal di sekolah ini masih dalam penyelidikan intensif kepihak kepolisianan.
Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden penembakan massal yang melibatkan fasilitas pendidikan dan senjata api di Thailand. Kepemilikan senjata api di negara tersebut tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Akses terhadap senjata api milik keluarga kerap menjadi faktor pemicu utama dalam berbagai kasus penembakan yang melibatkan remaja. Kasus di Nonthaburi ini menjadi perhatian nasional lantaran melibatkan pembunuhan anggota keluarga semasih belum penyerangan massal di sekolah.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

