MediaMerdeka.com – Penyidik kepihak kepolisianan Korea Selatan resmi menyita dokumen dari markas besar Starbucks Korea atas dugaan pelecehan sejarah. Langkah hukum ini merupakan buntut dari strategi pemasaran bermasalah yang menyinggung tragedi penumpasan militer Gwangju 1980.
Aparat hukum menduga promosi bertajuk “Tank Day” sengaja dirancang demi mencederai kehormatan para pejuang demokrasi. Dugaan kesengajaan tersebut kini menjadi fokus utama penyelidikan setelah pihak kepolisian menemukan indikasi kejanggalan pada evaluasi internal manajemen.
Langkah tegas markas kepihak kepolisianan ini berawal dari aduan resmi organisasi kemasyarakat sekitaran terhadap bos Shinsegae Group, Chung Yong-jin.
Sebagai induk usaha E-Mart yang menguasai saham mayoritas Starbucks Korea, pimpinan korporasi tersebut dituding mencemarkan nama baik para pihak korban beserta keluarga mereka.
Penyidikan meluas usai dokumen penggeledahan menetapkan Starbucks Korea sebagai pihak yang diduga menjalankan penghinaan terbuka. Polisi kini terus mengumpulkan bukti demi membuktikan keterlibatan jajaran manajemen dalam penyusunan materi iklan tersebut.
Sensitivitas publik meledak ketika korporasi menjual paket tumbler berlabel “Tank” yang disertai slogan penutup “Letakkan di meja bersama bunyi ‘Tak!'”.
Penggunaan kata tersebut membangkitkan trauma mendalam masyarakat sekitar atas pengerahan armada lapis baja militer saat membantai pengunjuk rasa di Gwangju.
Frasa “Tak” dalam iklan tersebut juga dinilai memicu kenangan kelam atas tewasnya aktivis kalangan akademisi Park Jong-cheol pada 1987. Momen penyiksaan kalangan akademisi oleh aparat kepihak kepolisianan kala itu menjadi pemantik utama gelombang perlawanan rakyat menuju era demokratisasi.
Gelombang protes massa langsung memaksa manajemen membatalkan seluruh rangkaian kampanye tersebut tak lama setelah diluncurkan.
Tidak berhenti di situ, tekanan publik yang masif berujung pada pemecatan posisi puncak pimpinan eksekutif Starbucks Korea.
Pemberontakan Demokrasi 18 Mei 1980 di Gwangju merupakan fondasi penting sejarah modern Korea Selatan yang memakan sejumlah pihak korban jiwa masyarakat sekitar sipil.
Kampanye pemasaran komersial yang mengaitkan istilah kendaraan tempur militer pada tanggal peringatan bersejarah tersebut dinilai melukai rasa keadilan masyarakat sekitar.
Atas gejolak yang merusak reputasi korporasi tersebut, pimpinan tertinggi Shinsegae Group telah menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf secara terbuka. Meski demikian, proses hukum pidana atas dugaan pencemaran nama baik pejuang demokrasi tetap berlanjut di kepihak kepolisianan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

