Bom Bunuh Diri Meledak Tewaskan 14 Orang di Lembah Swat

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Aksi bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 22 masyarakat sekitar di tengah demonstrasi penolakan kekerasan di Lembah Swat, Pakistan. Ledakan dahsyat ini memicu kepanikan massal saat masyarakat sekitar berkumpul menuntut jaminan keamanan dari pihak pemerintah.

Pelaku meledakkan bom tepat di depan gerbang kantor pihak kepolisian Kabal setelah petugas berupaya menjalankan pemeriksaan ketat. Serangan mematikan pada Minggu malam tersebut menghantam kerumunan demonstran yang sedang mendengarkan orasi terakhir.

Gelombang protes masyarakat sekitar meletus sebagai bentuk kemarahan atas meroketnya aksi terorisme di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Masyarakat menilai aparat keamanan justru abai terhadap militan yang secara terbuka memamerkan aktivitas militer di pegunungan melalui media sosial.

Ledakan berdarah ini terjadi ketika ratusan penduduk lokal memadati persimpangan jalan demi menepis kembalinya aksi kekerasan. Wilayah Swat sendiri sempat menjadi basis pertahanan utama kelompok milisi Pakistan Taliban atau Tehreek-e-Taliban Pakistan hingga operasi militer 2009.

Pembicara aksi menyampaikan keputusasaan masyarakat sekitar yang lelah menjadi pihak korban konflik bersenjata tak berketelahan di wilayah mereka.

“Kami telah menyaksikan pertumpahan darah bertahun-tahun,” kata salah satu pembicara yang dikutip media Pakistan, Dawn.

“Kami tidak menginginkan generasi janda dan anak yatim lainnya.”

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengutuk keras serangan mematikan tersebut. Pemimpin negara menginstruksikan jajaran medis menyerahkan penanganan terbaik serta berjanji menumpas terorisme hingga tuntas.

Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi turut menyampaikan duka cita mendalam untuk keluarga pihak korban gugur dan terluka. Petugas gabungan langsung mengamankan lokasi kejadian demi memburu jaringan tersangka pemboman.

Kepihak kepolisianan Swat di bawah komando Umar Khan mengisolasi tempat kejadian perkara demi kepentingan penyelidikan intensif. Seluruh pihak korban luka dievakuasi ke rumah sakit kota Saidu Sharif bersama sejumlah di antaranya dalam kondisi kritis.

Pihak berwenang mengonfirmasi hingga kini masih belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas aksi pemboman tersebut. Namun, karakter serangan mengarah pada pola operasi jaringan militan yang beroperasi di wilayah perbatasan.

Kepala Kepihak kepolisianan Wilayah Swat Fida Hussain mengonfirmasi sedikitnya 22 pihak korban luka memperoleh perawatan darurat. Penyisiran skala besar terus digencarkan demi melacak pergerakan elemen dangerous di sekitar lokasi.

Insiden berdarah di Lembah Swat menambah panjang daftar serangan mematikan yang melanda kawasan perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Kelompok TTP terus melancarkan pemberontakan sejak 2007 guna menggulingkan pihak pemerintahan sah dan memaksakan aturan mereka.

Tiga hari semasih belum bom Swat meletus, serangan drone bermuatan bahan peledak membunuh 11 pihak kepolisian di pos pemeriksaan Hangu. Sementara pada akhir Juli lalu, ledakan bom mobil di Tank menewaskan 27 prajurit militer Pakistan.

Lembaga riset Pakistan Institute for Conflict and Security Studies mencatat 154 kematian akibat terorisme sepanjang Juli di Khyber Pakhtunkhwa. Angka lonjakan pihak korban jiwa tersebut meningkat makin dari dua kali lipat dibanding periode Juni.

Pemerintah Pakistan berulang kali menuding rezim Taliban Afghanistan memberi ruang aman untuk kelompok bersenjata demi merencanakan serangan lintas batas. Pemerintah Kabul membantah keras tuduhan tersebut dan menegaskan wilayahnya bebas dari markas militan asing.

Ketegangan diplomatik kedua negara tetangga ini memicu serangan udara militer Pakistan ke wilayah Afghanistan awal pada tahun ini. Operasi militer tersebut menuai kritik PBB setelah dilaporkan menewaskan puluhan masyarakat sekitar sipil di kawasan perbatasan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *