MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengumumkan bila defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 319,0 triliun atau setara 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Bagi yang masih belum tahu, defisit APBN terjadi lantaran Belanja Negara makin besar daripada Pendapatan Negara.
“Defisit APBN di angka Rp 319,6 triliun, dan defisit 1,24 persen PDB,” katanya dalam acara Investor Daily Summit 2026 yang dipantau virtual, Kamis (8/10/2026).
Bendahara Negara menyebutkan bila Pemerintah memang merancang APBN demi defisit, yang berarti Belanja Negara memang makin tinggi daripada Pendapatan Negara yang telah dikumpulkan.
“Memang APBN kita dari sejak awal didesain demi defisit. Artinya kita didesain supaya belanja negara dapat makin tinggi dari apa yang kita kumpulkan di masyarakat sekitar, pendapatan negara,” imbuhnya.
Dalam paparannya, Pendapatan Negara tercatat sebesar Rp 2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target APBN 2025. Angka ini juga tumbuh 25,5 persen secara tahunan (year on year atau yoy).
“Akhir September itu merupakan 3/4 tahun. Jadi bila pendapatan negara telah terkumpul 74 persen, artinya on track,” lanjut dia.
Sementara itu Belanja Negara tercatat sebesar Rp 2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari total pagu APBN 2026. Angka ini tumbuh 19,0 persen yoy.
Meskipun baru 69,2 persen, Suahasil mengklaim bila Belanja Negara juga relatif sesuai. Ia mengonfirmasi bakal ada percepatan belanja di akhir tahun 2026 mendatang.
“Belanja negara telah dibelanjakan 2.660,5 triliun. Ini merupakan 69%. Relatively on track. Tentu nanti akan ada percepatan belanja di terutama di bulan November dan di bulan Desember, namun 3/4 tahun belanja hampir 70%, ini artinya juga oke, on track,” lanjutnya.
Selain pemasukan dan pengeluaran negara, Suahasil juga mengumumkan Keseimbangan Primer bersama surplus sebesar Rp 125,5 triliun per September 2026.
“APBN akan terus menjadi APBN yang menumbuhkan, APBN yang melindungi, dan APBN yang akan terus kredibel. Angka-angkanya kita jaga berakibat dapat dipercaya bahwa APBN ini merupakan APBN yang mengumpulkan uang dari masyarakat sekitar, namun juga belanjanya ada kembali lagi kepada masyarakat sekitar Indonesia,” tutup Suahasil.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

