MediaMerdeka.com – Sektor manufaktur nasional mengawali memperlihatkan sinyal pemulihan pada Juli 2026 setelah sempat diterpa tekanan dari sisi produksi maupun permintaan. Keaparatur negara kementerianan Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) naik menjadi 53,10 atau tetap berada di zona ekspansi, menandakan aktivitas industri kembali bergerak positif.
Juru Bicara Keaparatur negara kementerianan Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif menyebutkan berbagai tekanan yang membebani industri pada bulan semasih belumnya kini mengawali mereda. Pada Juni 2026, tersangka industri masih wajib menyikapi pemadaman listrik, lonjakan harga bahan baku impor, kenaikan harga gas industri, hingga dampak suku bunga acuan yang tinggi terhadap konsumsi dan investasi.
“Pada bulan Juni kami menyampaikan industri menyikapi tekanan dari dua sisi sekaligus, dari sisi produksi dan dari sisi permintaan,” kata Febri dalam konferensi pers Rilis IKI Juli 2026 di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Menurut Febri, dari sisi produksi, industri saat itu dibayangi gangguan pasokan listrik, kenaikan harga bahan baku impor, kenaikan harga gas industri, serta dampak kenaikan BI Rate. Sementara dari sisi permintaan, suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 5,75 persen menekan kredit konsumsi, investasi, dan belanja rumah tangga.
Namun, memasuki Juli 2026, kondisi tersebut mengawali membaik.
“Pada bulan Juli 2026 ini, dua tekanan pada sisi produksi dan di sisi permintaan itu telah teratasi bersama baik. Sehingga nilai Indeks Kepercayaan Industri pada bulan Juli 2026 menjadi 53,10. Ini berarti di atas 50 dan berstatus ekspansi,” ujarnya.
Kenaikan IKI ditopang oleh membaiknya komponen pesanan baru yang meningkat menjadi 53,80, sementara indeks produksi naik menjadi 54,55. Perbaikan tersebut mencerminkan mengawali pulihnya aktivitas manufaktur setelah menyikapi tekanan selama sejumlah bulan terakhir.
Febri menerangkan peningkatan pesanan baru didorong oleh membaiknya permintaan dari berbagai sektor ekonomi serta meningkatnya konsumsi rumah tangga. Selain itu, sejumlah program pihak pemerintah juga mengawali menyerahkan efek berganda terhadap aktivitas industri.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), implementasi biodiesel B50, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, hingga program pembangunan tiga juta rumah dinilai mengawali mendorong permintaan terhadap produk-produk manufaktur.
Dari sisi produksi, industri juga dinilai mampu mempertahankan daya tahannya meski semasih belumnya menyikapi lonjakan biaya bahan baku, kenaikan harga gas industri, dan gangguan pasokan listrik.
“Kami menilai kenaikan sebesar 0,27 poin pada variabel produksi memperlihatkan kekuatan rantai pasok industri dalam negeri menyikapi tekanan. Industri memperlihatkan resiliensi, demikian juga rantai pasok industri,” kata Febri.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

