MediaMerdeka.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merasakan tekanan pada perdagangan semasih belumnya bersama ditutup melemah sebesar 0,89 persen.
Koreksi indeks domestik ini turut diperberat oleh derasnya arus modal keluar, di mana investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai sekitar Rp789 miliar.
Aksi jual asing tersebut berpusat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps). Lima saham yang teramat sejumlah dilepas oleh investor asing meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).
Meskipun ditutup di zona merah, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai pergerakan indeks domestik pada hari ini masih memiliki potensi pembalikan arah.
“IHSG berpeluang demi merasakan short term technical rebound pada hari ini,” jelas Fanny. Ia memproyeksikan area support IHSG pada saat ini berada di rentang 6.050 hingga 6.100, sementara level resisten berada di kisaran 6.170 hingga 6.230.
Untuk menyikapi pergerakan pasar pada hari ini, Fanny menyerahkan sejumlah rekomendasi saham (trading idea) bersama strategi Speculative Buy (Spec Buy) yang dapat dicermati oleh para investor:
BUMI: Spec Buy bersama area beli di 165, cutloss apabila turun di bawah 162. Target terdekat di 168–170.
TLKM: Spec Buy bersama area beli di 2.560, cutloss di bawah 2.540. Target terdekat di 2.600–2.650.
TINS: Spec Buy bersama area beli di 3.440–3.460, cutloss di bawah 3.400. Target terdekat di 3.490–3.520.
BNBR: Spec Buy bersama area beli di 102–104, cutloss di bawah 100. Target terdekat di 106–109.
BREN: Spec Buy bersama area beli di 3.370–3.430, cutloss di bawah 3.370. Target terdekat di 3.460–3.500.
TOWR: Spec Buy bersama area beli di 394–402, cutloss di bawah 394. Target terdekat di 406–414.
Bursa Asia Runtuh Terseret Sektor Cip
Koreksi yang terjadi pada IHSG sejalan bersama tekanan hebat yang melanda bursa saham kawasan Asia pada perdagangan Senin (28/7). Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual masif pada saham-saham korporasi semikonduktor (cip).
Sentimen negatif memukul sektor cip Asia menyusul laporan dari The Information yang menyebutkan bahwa China telah mengawali memproduksi mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV) secara lokal. Teknologi krusial ini semasih belumnya amat didominasi oleh korporasi asal Belanda, ASML.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

