Warga Rempang Ketakutan, Alat Berat Masuk Saat Sinyal dan Listrik Padam

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Masyarakat Pulau Rempang mengaku ketakutan setelah alat berat dikerahkan ke lahan masyarakat sekitar di Pantai Melayu, Rempang Cate, Kecamatan Galang, pada Kamis (13/8/2026).

Kedatangan alat berat tersebut disebut berlangsung tanpa pemberitahuan semasih belumnya. Situasi semakin menciptakan masyarakat sekitar panik lantaran seluruh provider telekomunikasi kehilangan sinyal, sementara aliran listrik di lokasi juga padam.

“Sekitar pukul 9 pagi, sinyal langsung hilang. Lampu mati, berakibat kami amat sulit demi berkoordinasi dan menanyakan apa yang terjadi bersama turunnya Tim Terpadu tersebut,” kata seorang masyarakat sekitar Rempang dalam konferensi pers daring melalui akun YouTube Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Minggu (16/8/2026).

Menurut masyarakat sekitar, alat berat lalu langsung beroperasi di atas lahan yang hingga kini masih belum dibebaskan oleh pihak pemerintah.

“Jadi lahan masyarakat sekitar ini masih belum dibebaskan, namun alat berat telah turun,” ujarnya.

Kehadiran petugas yang berjaga di sekitar lokasi juga memicu trauma masyarakat sekitar terhadap peristiwa yang terjadi pada September 2023. Saat itu, masyarakat sekitar Rempang sempat terlibat dalam aksi penolakan terhadap rencana pengembangan kawasan.

Dalam aksi pada Kamis lalu, seorang ibu bahkan dilaporkan jatuh pingsan ketika berusaha menghalangi alat berat yang bekerja di Pantai Melayu.

“Ibu tersebut langsung jatuh, terguling di tanah bagaikan yang ada di kanal YouTube ataupun media sosial yang pada saat ini beredar,” kata masyarakat sekitar tersebut.

Warga Merasa Tertekan

Warga menilai situasi tersebut ironis lantaran terjadi menjelang peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Alih-alih merasakan kemerdekaan, mereka justru mengaku merasakan tekanan secara mental dan psikologis.

“Kalau demi kemerdekaan 81 tahun Indonesia merdeka yang kami rasakan itu bukan kemerdekaan. Yang kami rasakan pada saat ini merupakan tekanan secara mental, psikologis. Bahkan tekanan itu bukan cuma terbatas kepada bapak-bapak, ibu-ibu, namun juga kepada kalangan anak,” tuturnya.

Peristiwa tersebut berlangsung selama dua hari. Setelah sekitar enam jam terputus dari jaringan komunikasi, masyarakat sekitar baru kembali dapat berkomunikasi pada sore hari.

Warga yang mayoritas wanita lalu memilih tidak merangsek masuk demi menghalangi alat berat lantaran khawatir aksi tersebut justru menimbulkan makin sejumlah pihak korban.

Mereka akhirnya menyampaikan keberatan melalui orasi di hadapan aparat yang membentuk pagar hidup di sekitar lokasi. Setelah itu, masyarakat sekitar membubarkan diri.

Pada hari kedua, Tim Terpadu kembali diterjunkan bersama jumlah personel yang disebut makin sejumlah. Kali ini, personel aparat TNI juga terlihat ikut berjaga.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *