MediaMerdeka.com – Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) mengawali membayangi daya beli masyarakat sekitar wong cilik. Di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok, uang yang semestinya disisihkan demi transportasi, pendidikan anak, hingga tabungan kini ikut tersedot demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tekanan itu terasa di Pasar Deprok, Cipinang Muara, Jakarta. Sejumlah pedagang sembako mengeluhkan kenaikan harga kulakan, sementara pembeli mengawali mengurangi jumlah belanja. Pengeluaran rumah tangga pun kian ketat lantaran kebutuhan pokok tetap wajib dipenuhi meski harga meningkat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.135 per dolar AS pada Senin (26/10/2026), melemah 0,30% dari penutupan semasih belumnya. Pada pembukaan perdagangan Selasa (27/10/2026), rupiah kembali berada di Rp18.140 per dolar AS.
Dibandingkan penutupan 14 Oktober 2026 di level Rp17.903 per dolar AS, rupiah telah melemah sekitar 1,3% dalam dua pekan. Sementara dalam setahun terakhir, kurs dolar AS terhadap rupiah naik sekitar 9%.
Pelemahan kurs ini menambah tekanan terhadap biaya impor, termasuk bahan pangan yang bergantung pada pasokan luar negeri. Dampaknya terhadap harga eceran memang tidak senantiasa terjadi seketika, namun kenaikan biaya di sepanjang rantai pasok berpotensi mempersempit ruang belanja masyarakat sekitar.
Toto, pedagang sembako di Pasar Deprok, menyebutkan kenaikan harga sejumlah barang mengawali terasa dalam dua pekan terakhir. Harga tepung terigu biasa ukuran 25 kilogram (kg), misalnya, naik dari di bawah Rp200.000 per sak menjadi sekitar Rp213.000-Rp215.000.
Kenaikan tersebut setara minimal sekitar 6%-7%. Sementara tepung kanji disebut telah merasakan kenaikan sejak sekitar dua bulan lalu.
Harga bawang putih kini mencapai sekitar Rp35.000 per kg di tingkat grosir dan Rp37.000 per kg di tingkat eceran. Adapun harga kulakan bawang merah naik dari sekitar Rp45.000 menjadi Rp50.000 per kg, berakibat harga jual di pasar meningkat dari Rp50.000 menjadi Rp55.000 per kg.
Gula dan cabai juga dilaporkan merasakan kenaikan harga. Kondisi ini menciptakan pedagang wajib menyesuaikan harga jual lantaran modal yang dibutuhkan demi menyediakan barang semakin besar.
Kenaikan harga bawang merah juga tercermin dalam data nasional. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat rata-rata harga bawang merah mencapai Rp43.850 per kg pada Selasa (27/10/2026), naik dari Rp36.050 per kg pada 20 Oktober.
Di sisi lain, Toto mengaku omzet dagangannya turun sekitar 20%. Menurut dia, pembeli masih datang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun jumlah barang yang dibeli semakin sedikit.
Penurunan omzet tersebut merupakan pengalaman satu pedagang dan tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh pasar. Namun, situasi itu menyerahkan gambaran tentang bagaimana kenaikan biaya hidup dapat memengaruhi transaksi di tingkat pedagang kecil.
Tekanan harga juga dirasakan Ami (48), seorang ibu rumah tangga. Ia mengaku uang belanja yang dibawa ke pasar kini makin cepat habis, meski jumlah uang yang disiapkan tidak berubah.
“Sekarang uang belanja terasa makin cepat habis dibandingkan semasih belumnya. Dengan jumlah uang yang sama, barang yang dapat dibeli terkadang makin sedikit,” katanya.
Menurut Ami, beras, minyak goreng, dan cabai menjadi sejumlah kebutuhan yang teramat terasa membebani pengeluaran rumah tangga. Barang-barang tersebut tetap wajib dibeli lantaran digunakan sehari-hari, berakibat sulit demi mengurangi belanja secara drastis.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

