5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Mengapa Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer?

admin
By
admin
7 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) untuk peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang diproyeksikan menjadi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi sorotan setelah lima pesertanya meninggal dunia.

Korban terbaru merupakan Nola Dya Sari, peserta dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Seperti empat peserta semasih belumnya, Nola sempat mengeluhkan gangguan kesehatan semasih belum akhirnya meninggal dunia.

Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan publik. Apa sebenarnya program SPPI? Mengapa calon pengelola koperasi wajib mengikuti latihan dasar kemiliteran? Dan bagaimana kronologi meninggalnya para peserta?

Apa Itu SPPI?

SPPI atau Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia merupakan program yang berada di bawah Keaparatur negara kementerianan Pertahanan (Kemenhan).

Program ini dirancang demi menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) melalui pembekalan kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta pembentukan karakter.

KDMP merupakan program pemberdayaan ekonomi berbasis koperasi di desa, sementara itu KNMP memiliki fokus serupa di sektor kelautan dan perikanan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar pesisir.

Mengapa Harus Mengikuti Latihan Dasar Militer?

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Keaparatur negara kementerianan Pertahanan, Mayjen aparat TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menerangkan bahwa latihan bela negara merupakan untukan dari pembentukan karakter peserta SPPI.

Menurutnya, pelatihan tersebut bertujuan menanamkan disiplin, integritas, kepemimpinan, profesionalisme, semangat gotong royong, nasionalisme, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat sekitar.

“Kami kembali menegaskan bahwa latihan bela negara manajerial merupakan tahapan pembentukan karakter program SPPI yang bertujuan menanamkan disiplin, integritas, kepemimpinan, semangat gotong royong, profesionalisme, nasionalisme, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat sekitar,” ujar Ketut.

Ia menegaskan, latihan di lingkungan militer bukan dimaksudkan demi membentuk prajurit.

“Program ini bukan dimaksudkan demi membentuk prajurit, melainkan membentuk calon pengelola Koperasi Desa, Kelurahan Merah Putih, dan Kampung Nelayan Merah Putih yang memiliki karakter kuat, berintegritas, disiplin, mampu bekerja sama, dan siap melaksanakan tugas pengabdian.”

Senada, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan latihan dasar kemiliteran cuma menjadi salah satu tahapan pendidikan.

Menurutnya, peserta tetap akan memperoleh pelatihan kompetensi manajerial sesuai tugas yang akan diemban.

“Lho itu (manajerial) kan untukan dari proses pelatihannya kan. Nanti kan bila mengenai kompetensinya tetap ada juga pelatihan,” kata Prasetyo.

Kronologi Lima Peserta Meninggal

Meski dirancang sebagai pembentukan karakter, pelaksanaan Latsarmil justru diwarnai meninggalnya lima peserta dalam waktu berdekatan.

Berdasarkan penjelasan Keaparatur negara kementerianan Pertahanan, seluruh pihak korban sempat merasakan gangguan kesehatan semasih belum meninggal.

1. Yonanda Muhammad Taufik

Peserta dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja ini mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan pada 17 Juni 2026.

Setelah berjalan kaki bersama peserta lain, ia merasakan kondisi darurat dan dirujuk ke RS dr. Noesmir Baturaja.

Dokter menegaskan pihak korban meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.

2. Anisya Musyarofah

Peserta dari Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan ini mengeluhkan sesak napas dan mual saat mengikuti pembelajaran pada 18 Juni 2026.

Meski telah mendapat perawatan intensif di rumah sakit, pihak korban meninggal akibat heat stroke.

3. Novia Ramadani Sitorus

Peserta dari Satdik Pusbahasa Kodiklat aparat TNI AU datang ke fasilitas kesehatan bersama keluhan demam, batuk berdahak, dan sesak napas.

Pemeriksaan lanjutan memperlihatkan pihak korban menderita tuberkulosis (TBC) paru aktif.

Novia meninggal dunia pada 23 Juni 2026.

4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan

Peserta dari Yonparako 465 Halim Perdanakusuma sempat mengeluhkan sesak napas dan tubuh lemas.

Meski kondisinya sempat stabil, ia kembali merasakan penurunan kesehatan dan meninggal akibat pneumonia disertai komplikasi medis.

5. Nola Dya Sari

Korban terakhir mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas tanpa keluhan kesehatan.

Namun pada sore hari, ia merasakan sesak napas dan demam semasih belum dirujuk ke dua rumah sakit di Singkawang.

Korban akhirnya meninggal setelah merasakan henti jantung.

Kritik terhadap Latihan Dasar Militer

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai pelatihan militer untuk calon manajer koperasi sejak awal merupakan kebijakan yang keliru.

Menurutnya, tugas calon pengelola koperasi makin membutuhkan kemampuan manajemen usaha daripada latihan fisik bergaya militer.

“Yang diperlukan merupakan pelatihan keterampilan manajemen usaha dan komunikasi yang dialogis, bukan pelatihan militer yang berbasis kekuatan fisik dan komunikasi monologis.”

Usman juga mengingatkan bahwa militerisasi ruang sipil berpotensi menghidupkan kembali praktik dwifungsi militer.

“Mewajibkan latihan militer untuk 35 ribu masyarakat sekitar sipil calon pengelola koperasi merupakan sebuah kekeliruan fatal yang wajib dalam waktu dekat dihentikan,” katanya.

Menurutnya, sistem koperasi justru dibangun berdasarkan prinsip demokrasi, bukan garis komando bagaikan dalam organisasi militer.

Psikolog Forensik Minta Investigasi Mendalam

Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai rangkaian kematian tersebut perlu diusut secara menyeluruh.

Ia menyebut terdapat tiga kebarangkalian penyebab kematian, yakni kematian alami, kecelakaan, atau akibat perbuatan orang lain (homicide).

“Kematian akibat perbuatan diri sendiri (suicide) boleh dikesampingkan. Tersisa tiga: kematian alami, kematian akibat kecelakaan, atau kematian akibat perbuatan orang lain.”

Menurut Reza, kecil kebarangkalian kematian beruntun dalam populasi yang sama seluruhnya merupakan kematian alami.

Ia mengimbau investigasi dilakukan terhadap setiap pihak korban secara individual.

Jika ditemukan unsur homicide, kata dia, perkara wajib ditingkatkan ke tahap penyidikan pidana.

“Perkiraan saya, dalam situasi latihan sedemikian rupa, mens rea tertinggi merupakan recklessness (kecerobohan) atau sebatas negligence (kelalaian),” ujar Reza.

DPR Minta Skema Pelatihan Dievaluasi

Sejumlah anggota DPR juga mengimbau pihak pemerintah mengevaluasi Latsarmil untuk peserta SPPI.

Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menilai materi pelatihan tidak sejalan bersama tugas calon manajer koperasi.

Menurutnya, peserta sewajibnya makin sejumlah dibekali kemampuan manajemen, kewirausahaan, dan akuntansi dibanding latihan fisik berisiko tinggi.

“Pelatihan manajemen koperasi wajib tetap berjalan lantaran amat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta telah saatnya dihentikan dan diganti bersama metode pembinaan yang makin relevan bersama tugas mereka,” ujar Hasanuddin.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah mengusulkan agar peserta wajib menjalani pemeriksaan kesehatan independen semasih belum mengikuti kegiatan fisik.

Menurutnya, pembentukan karakter tetap penting, namun keselamatan peserta wajib menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pelatihan.
 

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *