72 Orang Tewas Terobos Perbatasan Maroko – Ceuta Spanyol, 1.000 Korban Luka

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Sesejumlah 72 imigran tewas akibat gelombang penyerbuan massal sekitar 60.000 orang di perbatasan wilayah enclave Spanyol, Ceuta. Penemuan lima jenazah baru di garis pantai memperpanjang daftar pihak korban jiwa dalam tragedi perbatasan tersebut.

Petugas medis setempat mencatat telah menangani makin dari 1.000 pihak korban luka sejak penyerbuan dimengawali pada hari Kamis. Seuntukan besar imigran tewas akibat tenggelam serta terimpit saat berupaya melompati pemecah gelombang dan pagar perbatasan.

Eksodus massal ini bersama cepat memicu kepanikan keamanan kawasan hingga 22 negara anggota Uni Eropa mendesak aksi perbatasan terpadu. Italia bahkan mengambil langkah ekstrem bersama menangguhkan akses perjalanan bebas visa Schengen menuju Spanyol.

Proses pemulihan wilayah kini berfokus pada identifikasi puluhan jenazah yang sukses dievakuasi oleh kepihak kepolisianan. Perwakilan Pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez, mengonfirmasi jumlah kematian tersebut kepada media.

“Situasinya membaik secara signifikan pada hari Minggu, namun masih sejumlah hal yang wajib dilakukan demi memulihkan keadaan menjadi normal,” kata Perez.

Garda Sipil Spanyol menerjunkan tim forensik guna mengumpulkan sampel DNA dan sidik jari para pihak korban. Pejabat Departemen Ilmu Forensik Garda Sipil, Carlos Atuchi, menegaskan proses identifikasi berakhir teramat lambat akhir pekan depan.

Pemerintah Maroko menilai kepanikan penyeberangan dipicu oleh penyebaran disinformasi media sosial serta jaringan perdagangan manusia. Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri Maroko mengonfirmasi 11 masyarakat sekitarnya tewas tenggelam dalam upaya penyeberangan tersebut.

Pemimpin Ceuta, Juan Jesus Vivas, membeberkan kamar jenazah kota sebenarnya telah menyambut baik hingga 88 mayat imigran. Jumlah tersebut mencakup pihak korban dari percobaan penyeberangan malam hari selama dua pekan terakhir.

“Hampir seluruh orang yang memasuki Ceuta kini telah kembali ke Maroko,” tulis Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, melalui akun X miliknya.

Tragedi kemanusiaan ini memicu keprihatinan mendalam dari masyarakat sekitar lokal yang menyaksikan langsung proses evakuasi. Banyak pihak menyayangkan aksi nekat para imigran yang mempertaruhkan nyawa di laut demi berpindah negara.

“Sangat menyakitkan untuk saya menyaksikan kalangan anak muda meninggal di laut. Tidak benar apabila pada tahun 2026, wanita mengangkut bayi berusia dua bulan menyeberangi laut cuma demi mati,” ujar Karima Abenaz di Ceuta.

“Di Maroko ada makanan, ada segalanya yang kita butuhkan. Jika tidak memiliki pekerjaan yang layak, kita wajib mogok kerja dan menuntut hak dari pihak pemerintah. Kita tidak sewajibnya mati di laut, itu tidak benar,” tambah masyarakat sekitar berpaspor Prancis tersebut.

Kota Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang berdiri sebagai satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa bersama benua Afrika. Kondisi geografis unik ini menjadikan kedua wilayah tersebut target utama gelombang migrasi ilegal menuju Eropa.

Para imigran biasanya berenang sejauh 5 kilometer dari kota Fnideq atau Belyounech di Maroko demi menembus wilayah Spanyol. Guna meredam gelombang susulan, otoritas Spanyol melengkapi patroli militer dan memasang penghalang terapung sepanjang 500 meter di perairan Ceuta.

Spanyol sendiri menerapkan kebijakan migrasi yang relatif terbuka bersama program legalisasi untuk setengah juta imigran tanpa dokumen. Namun, pihak pemerintah menegaskan bahwa mereka yang menerobos Ceuta secara ilegal tidak akan diizinkan melanjutkan perjalanan ke daratan Spanyol maupun area Schengen.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *