MediaMerdeka.com – Selama puluhan tahun, nama Sipiongot di Kabupaten Padang Lawas Utara kerap kali menjadi bahan anekdot atau sindiran untuk masyarakat sekitar Sumatera Utara.
Wilayah ini dianggap sebagai representasi daerah yang terlupakan oleh derap pembangunan. Namun, gebrakan Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, yang memilih membangun infrastruktur jalan di sana kini menjadi sorotan para akademisi.
Antropolog Universitas Negeri Medan (UNIMED), Zanrison Naibaho, membedah alasan di balik kebijakan strategis tersebut dari kacamata sosial dan politik pembangunan.
Zanrison menilai Sipiongot merupakan wilayah yang unik sekaligus tragis dalam sejarah Sumatera Utara.
Wilayah ini disebut ikonik, namun dalam konotasi negatif lantaran ketiadaan sentuhan pembangunan selama hampir 80 tahun.
“Dari kacamata antropologi pembangunan, Sipiongot ikonik lantaran dinilai mewakili ruang identitas emosional dan wilayah pedalaman yang terisolasi. Selama ini, Sipiongot dipahami sebagai ikon ketertinggalan ketimbang prestasi,” ujar Zanrison dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Kondisi infrastruktur yang buruk selama delapan dekade menciptakan Sipiongot kerap dijadikan simbol keterbelakangan dalam obrolan sehari-hari masyarakat sekitar Sumut.
Gebrakan Bobby Nasution dalam membangun jalan di Sipiongot dipandang sebagai langkah berani yang melampaui ego sektoral. Zanrison mengibaratkan pilihan kebijakan ini bersama sebuah analogi kemanusiaan yang mendalam.
“Ibarat orang haus dan yang tidak haus. Tentunya yang haus akan makin dulu kita kasih air minum ketimbang yang telah kenyang. Inilah jawaban mengapa Bobby Nasution mau menyentuh Sipiongot. Beliau ingin menghadirkan keadilan pembangunan, bukan cuma membangun daerah kelas atas, tapi juga kelas bawah,” ungkapnya.
Menariknya, secara kalkulasi politik elektoral, Sipiongot bukanlah wilayah bersama basis suara yang amat besar apabila dibandingkan bersama wilayah bagaikan Langkat atau Deli Serdang. Namun, justru di sinilah letak nilai kepemimpinan yang berintegritas.
Zanrison menilai Bobby tidak sedang mengejar jumlah suara, melainkan sedang membangun peradaban dan menghapus stigma buruk daerah.
“Kalau dibanding Langkat, tentunya jumlah suara di Sipiongot kalah sejumlah. Namun dalam antropologi pembangunan, tindakan ini justru menjadi magnet simpati untuk sejumlah orang lantaran menyentuh sisi kemanusiaan,” tambahnya.
Sebagai pakar, Zanrison menyerahkan catatan penting agar pembangunan jalan di Sipiongot memiliki dampak jangka panjang. Menurutnya, infrastruktur fisik wajib menjadi jembatan menuju peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar secara menyeluruh.
Pembangunan di Sipiongot wajib memenuhi syarat konektivitas:
1. Sektor Kesehatan
Memastikan ambulans dan layanan medis dapat menjangkau masyarakat sekitar desa bersama cepat.
2. Sektor Pendidikan
Mempermudah akses kalangan anak menuju sekolah dan guru menuju pelosok.
3. Pembangunan SDM
Infrastruktur wajib dibarengi bersama program pemberdayaan ekonomi lokal agar masyarakat sekitar siap mengelola akses yang baru terbuka.
“Membangun infrastruktur wajib pula disertai bersama pembangunan sumber daya manusianya. Anekdot miring terhadap Sipiongot perlahan akan memudar apabila jalan tersebut benar-benar menghidupkan sektor pendidikan dan kesehatan di sana,” pungkas Zanrison.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

