Geger Kelompok Society of Saint Pius X Angkat 4 Uskup Tanpa Persetujuan Paus Leo, Siapa Mereka?

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Paus Leo XIV menyampaikan peringatan keras demi mencegah perpecahan besar di dalam Gereja Katolik. Pemimpin tertinggi Vatikan ini mendesak kelompok tradisionalis Society of Saint Pius X atau SSPX demi membatalkan penahdapatn uskup ilegal.

Langkah nekat kelompok tersebut dinilai sebagai tindakan skisma yang mencederai kesatuan iman. Vatikan menegaskan bahwa pelanggaran berat ini mengangkut konsekuensi spiritual yang fatal untuk para tersangkanya.

Krisis ini memuncak setelah SSPX bersikeras menahbiskan 4 uskup baru di Écône, Swiss, tanpa persetujuan kepausan. Paus Leo XIV bahkan menyurati langsung pimpinan tertinggi SSPX, Pastor Davide Pagliarani, demi meredam ambisi tersebut.

Melalui surat personal tersebut, sang Paus memperlihatkan kepedulian mendalam agar kelompok ini tidak melangkah terlalu jauh.

“Saya memohon kepada Anda dan mengimbau Anda bersama sepenuh hati: tolong berbaliklah!” tulis Paus Leo XIV dikutip dari Vatikannews, Rabu (1/7/2026).

Hukum gereja secara tegas menegaskan bahwa penahdapatn tanpa mandat kepausan memicu sanksi ekskomunikasi otomatis. Hukuman pengucilan ini akan langsung menjerat 4 uskup baru beserta uskup yang menahbiskan mereka.

Dampak penolakan ini tidak cuma menyasar para petinggi, namun juga mengancam kehidupan rohani jutaan umat. Paus mengingatkan bahwa pembangkangan ini justru merugikan jemaat yang setia mengikuti kelompok tradisionalis tersebut.

Dalam pesannya, Paus Leo XIV kembali membuka pintu dialog dan memperingatkan konsekuensi buruk untuk sakramen umat.

“Saya mendesak Anda demi mempertimbangkan bersama cermat kebaikan rohani umat beriman, lantaran tindakan skisma yang akan Anda lakukan akan merampas hak mereka demi menyambut baik sakramen secara sah, dan dalam sejumlah kasus, bahkan secara valid,” tegasnya.

Vatikan mengonfirmasi nasib buruk berupa pengucilan total siap membayangi para calon uskup baru apabila peringatan ini diabaikan. Hubungan yang kian merenggang ini mempertegas posisi SSPX yang tidak memiliki status hukum legal di dalam tata kelola Gereja Katolik.

Dikutip dari NBC, kelompok ultra-Katolik ini terus memperluas pengaruhnya secara masif di berbagai belahan dunia. Berdasarkan data internal, SSPX kini menjelma menjadi kekuatan paralel yang memiliki ratusan pastor dan biarawan dari 50 kemasyarakat sekitarnegaraan.

Jaringan kuat mereka pada saat ini tercatat merangkul 2 uskup, 751 imam, 264 seminaris, serta ratusan bruder dan suster. Pertumbuhan pesat ini kian memperlebar jarak pemisah antara kelompok penentang modernisasi dan Takhta Suci Vatikan.

Ketegangan antara kedua pihak berakar dari penolakan terhadap pembaruan Konsili Vatikan II pada era 1960-an. Saat itu, Konsili mengangkut reformasi besar, termasuk penggunaan bahasa lokal dalam Misa dan keterlibatan aktif kaum awam.

Perseteruan memuncak pada tahun 1988 ketika pendiri SSPX, Uskup Agung Marcel Lefebvre, nekat menahbiskan 4 uskup secara ilegal. Aksi sepihak tersebut berujung pada ekskomunikasi instan dari Vatikan yang dampaknya masih terasa hingga pada hari ini.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *