MediaMerdeka.com – Fenomena El Niño kembali menguat ketika dunia masih menyikapi dampak perubahan iklim. Kombinasi keduanya dikhawatirkan menciptakan suhu semakin panas dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
El Niño merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh meningkatnya suhu permukaan laut di untukan tengah dan timur Samudra Pasifik di atas kondisi normal.
Pemanasan tersebut lalu dapat mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Dampaknya tidak cuma dirasakan di kawasan Pasifik, namun dapat memengaruhi pola cuaca secara global.
Dalam kondisi perubahan iklim, dampak El Niño dapat menjadi makin berat. Laut dan atmosfer yang semakin hangat menyimpan makin sejumlah energi dan uap air, berakibat kondisi ekstrem bagaikan gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan berpotensi menjadi makin kerap atau intens.
“Kita telah melewati musim panas yang ekstrem, ribuan nyawa melayang dalam kondisi yang amat panas,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres, dikutip dari Phys.org, Senin (3/8).
Menurut Guterres, El Niño kali ini diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk situasi Bumi yang semasih belumnya telah terdampak perubahan iklim.
Ia menggambarkan El Niño bagaikan mengimbuhkan bahan bakar ke api yang telah menyala.
“Dua bulan lalu, saya memperingatkan bahwa El Niño akan dalam waktu dekat tiba. Tapi, kini fenomena itu telah terjadi dan terus menguat,” ujarnya.
Suhu laut semakin panas
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan suhu permukaan laut pada saat ini berada sekitar tiga derajat Celsius di atas kondisi normal.
Semakin hangat suhu laut, semakin besar energi yang tersedia demi memengaruhi pola cuaca dan memperkuat dampak El Niño di berbagai wilayah.
WMO juga memproyeksikan bahwa hingga Oktober, hampir seluruh wilayah daratan di dunia akan merasakan suhu yang makin tinggi dari biasanya.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gelombang panas dan kekeringan di sejumlah wilayah. Di tempat lain, cuaca yang makin panas dan atmosfer yang menyimpan makin sejumlah uap air dapat meningkatkan risiko hujan ekstrem dan banjir.
“Jika digabungkan, hal itu berisiko memecahkan setiap rekor musiman dan memicu dampak yang makin parah di seluruh dunia,” kata Guterres.
Dampak El Niño juga tidak senantiasa berupa kenaikan suhu.
Di India, misalnya, curah hujan tercatat jauh di bawah rata-rata. Sementara kondisi yang makin panas dan kering diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Tengah dan Karibia, seuntukan Amerika Selatan, Asia Selatan, Pasifik Barat Daya, Eropa, hingga Afrika.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

