MediaMerdeka.com – Negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz menyikapi jalan buntu setelah Amerika Serikat dan Iran saling melempar tuntutan baru yang kian memperkeruh iklim diplomasi. Tuntutan ganti rugi perang dari kedua belah pihak langsung memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengancam stabilitas pasokan energi global.
Penutupan jalur vital pasokan seperlima minyak dunia ini berpotensi memicu inflasi global yang jauh makin ekstrem apabila kedua negara tidak dalam waktu dekat melunakkan posisi tawar mereka. Kebuntuan tersebut juga diprediksi bakal memperlama konflik bersenjata antara Washington dan Teheran yang telah berlangsung selama lima bulan.
Diplomasi langsung antara kedua negara sebenarnya tidak sempat terjadi lantaran Teheran cuma mau berunding melalui perantara pihak ketiga yakni Kesultanan Oman. Pendekatan unilateral ini menegaskan keretakan hubungan diplomatik yang amat mendalam dan membatasi opsi penyelesaian krisis secara cepat.
Mengapa Tuntutan Baru Trump Memperkeruh Situasi?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Teheran wajib membayar ganti rugi atas kerusakan serta pihak korban jiwa dari berbagai aksi militer selama lima dekade terakhir.
“Kami akan mengimbau uang demi kerusakan yang telah mereka lakukan selama periode 50 tahun,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. “Jadi apabila ada kerugian yang wajib dibayar, saya pikir Iran wajib membayar kerugian tersebut.”
Melalui platform Truth Social, Trump bahkan menuntut ganti rugi demi keluarga 17 pelaut AS yang gugur dalam serangan kapal USS Cole tahun 2000 di Yaman, meski insiden itu sebenarnya dituduhkan kepada al-Qaeda.
“Juga, sehubungan bersama negosiasi Iran, Iran wajib bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!” tulis Trump.
Tuntutan keras dari Gedung Putih ini muncul tepat setelah Iran termakin dahulu mengimbau AS membayar ganti rugi atas kerusakan akibat serangan militer Washington dan Israel.
Namun, retorika tajam Trump berbanding terbalik bersama optimisme Wakil Presiden AS JD Vance yang meyakini kesepakatan damai masih amat barangkali tercapai.
“tidak ada rencana” kata Vance saat menerangkan bahwa pihak Iran telah menyampaikan tidak berniat memungut tarif penyeberangan di Selat Hormuz.
Meskipun ada nada optimis dari Vance, harga minyak mentah tetap melonjak makin dari 5 persen seiring memudarnya harapan publik terhadap perdamaian.
Apa Saja Syarat Mutlak Yang Diajukan Iran?
Iran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz semasih belum seluruh syarat politik dan ekonominya dipenuhi oleh pihak pemerintah AS.
Lembaga Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran merilis enam kondisi mutlak, yakni penghentian ancaman AS, penghentian serangan terhadap sekutu Iran, pengangkatan blokade laut, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

