MediaMerdeka.com – Sesejumlah 7 personel Angkatan Laut Amerika Serikat tewas dan sejumlah lainnya luka-luka akibat kerusuhan berdarah di atas kapal perang USS Abraham Lincoln. Bentrokan senjata tajam antarafiat awak kapal ini menjadi puncak dari tekanan mental parah akibat masa penugasan laut terlama dalam sejarah modern militer AS.
Gejolak di kapal perang yang beroperasi di Samudra Hindia ini menegaskan krisis moral parah yang sedang melanda internal militer Amerika Serikat. Insiden terjadi tepat saat utusan Komando Pusat AS (CENTCOM) berupaya meredam protes terkait perpanjangan masa tugas yang tak kunjung usai.
Kemarahan para prajurit meledak ketika penasihat militer Komandan CENTCOM Brad Cooper mendatangi lokasi demi menemui ribuan awak kapal. Pertemuan yang dirancang demi meredam gelombang protes keluarga prajurit itu justru memicu penolakan keras dari internal kapal.
Sorakan cemoohan hingga lemparan botol air mineral menghujani utusan CENTCOM yang berupaya menyerahkan pengarahan di hadapan para personel.
“Penasihat tersebut disoraki dan dilempari botol air saat berbicara di depan kumpulan personel,” ujar sumber militer tepercaya sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Tasnim.
Situasi panas tersebut bersama cepat berubah menjadi bentrokan fisik antarakelompok awak yang saling menyerang memakai pisau dan senjata tajam lainnya.
“Konfrontasi tersebut lalu berkembang menjadi perkelahian di antara anggota kru yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya, menyebabkan tujuh personel tewas dan sejumlah lainnya luka-luka,” lanjut sumber tersebut.
Mengapa Kerusuhan Berdarah Bisa Terjadi di Atas USS Abraham Lincoln?
Hingga pada saat ini kondisi di dalam kapal induk bertenaga nuklir tersebut dikabarkan masih amat tegang dan masih belum sepenuhnya terkendali.
“Atmosfer di atas kapal induk tetap tegang dan masih belum stabil,” ungkap laporan media tersebut.
Penugasan arungi samudra selama 263 hari menciptakan beban psikologis seluruh prajurit di atas USS Abraham Lincoln berada di titik kritis. Kapal ini tercatat telah berlayar nonstop selama 208 hari tanpa jeda pelabuhan yang memadai.
Rekor masa berlayar tanpa henti ini menjadi yang terpanjang untuk kapal induk militer AS di era modern. Satu-satunya jeda operasional mereka cumalah singgah singkat di pelabuhan Oman pada bulan Juli lalu.
Misi utama armada tempur ini merupakan menegakkan blokade laut terhadap wilayah Iran di kawasan Samudra Hindia. Namun, ketidaktentuan jadwal pulang memicu gelombang protes dari keluarga prajurit di tanah air hingga akhirnya menyulut insiden fatal di atas kapal.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

