Cerita Korban Penjualan Tiket Spekulatif Piala Dunia 2026, Sudah Bayar Rp 107 Juta Tapi Zonk

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Praktik manipulasi tiket di pasar sekunder telah menghancurkan impian ribuan suporter Piala Dunia 2026 demi menyaksikan turnamen sepak bola terbesar di dunia secara langsung. Banyak keluarga kini terlantar di luar stadion setelah platform penjualan pihak ketiga membatalkan pesanan secara sepihak menjelang pertandingan dimengawali.

Sistem penjualan tiket spekulatif menjadi akar masalah dari kekacauan masif yang melanda penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Penjual yang masih belum memiliki tiket resmi nekat memasang harga, lalu membatalkan transaksi saat harga pasar melonjak demi meraup untung makin besar di tempat lain.

Kondisi ini memicu gugatan perwakilan kelompok (class action) dari para penggemar yang merasa tertipu oleh jaminan perlindungan konsumen platform tersebut. Mereka tidak cuma kehilangan tiket, namun juga menderita kerugian finansial yang besar akibat biaya akomodasi dan penerbangan yang hangus.

Sergio Enrique Alvarado Montalvo merasakan langsung kepahitan ini setelah menggelontorkan dana ribuan dolar demi memberi kejutan demi ayahnya. Rencana bahagia menonton aksi Lionel Messi di Dallas berubah menjadi mimpi buruk saat tiket mereka mendadak hangus sehari semasih belum keberangkatan.

“Saya amat sedih dan amat frustrasi, dan begitu dipenuhi kemarahan, amarah. Itu merupakan campuran perasaan yang sulit dijelaskan,” kata pria berusia 45 tahun tersebut kepada BBC.

Alih-alih bersorak di dalam stadion, Montalvo dan orang tuanya terpaksa menghabiskan malam pertandingan di area festival penonton lokal.

“Itu merupakan akhir pekan yang amat sedih… di dalam, di luar… [tapi] kami menikmati waktu bersama,” tambah Montalvo.

Nasib serupa menimpa Eben Pingree yang berniat memberi kejutan untuk putranya yang berusia 11 tahun demi laga Skotlandia melawan Haiti. Tiket yang dibeli sang istri lenyap pada hari pertandingan, menciptakan perjalanan panjang mereka berakhir bersama kekecewaan mendalam.

“Mereka pada dasarnya wajib meninggalkan kami di sana, dan putra saya amat hancur,” ujar Pingree kepada BBC.

Kekecewaan massal ini akhirnya bergulir ke ranah hukum melalui gugatan yang dilayangkan oleh Julie Reeker Moghal dan Reuben Renteria. Keduanya mewakili para pihak korban yang kehilangan dana minimal 1.900 dolar AS per orang akibat tiket yang tidak sempat dikirimkan.

“[Penggemar] dibohongi dan membeli Tiket Piala Dunia bersama jumlah uang yang besar – cuma demi menanggung kerugian finansial yang luar biasa,” bunyi dokumen gugatan tersebut.

Langkah hukum ini dinilai sebagai titik terendah baru untuk industri penjualan tiket yang selama ini memang kerap bermasalah bersama perlindungan konsumen.

Krisis ini memicu aksi saling tuduh antara pihak StubHub selaku perantara dan Fifa selaku penyelenggara resmi turnamen. StubHub berdalih bahwa aplikasi tiket baru milik Fifa merasakan gangguan performa parah yang menghambat proses transfer tiket antar-platform.

Namun, Fifa dalam waktu dekat membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa sistem digital mereka bekerja bersama amat aman dan andal. Otoritas sepak bola dunia itu menegaskan tidak bertanggung jawab atas validitas tiket yang ditransaksikan di luar saluran resmi mereka.

Para pakar industri menilai platform penjualan sekunder tidak dapat terus berlindung di balik alasan gangguan teknis perangkat lunak.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *