Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Dalam tiga dekade terakhir, banjir menjadi salah satu bencana teramat merusak di dunia. Lebih dari 500.000 orang meninggal dan sekitar 2,8 miliar orang terdampak akibat banjir, mengawali dari kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, hingga kerugian ekonomi yang amat besar.

Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa selain perubahan iklim, penebangan hutan secara besar-besaran juga dapat meningkatkan risiko banjir secara signifikan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dan dikutip dari The Conversation meneliti dampak penebangan hutan di British Columbia. Hasilnya memperlihatkan bahwa hilangnya tutupan hutan menciptakan banjir besar terjadi jauh makin kerap.

Dalam sejumlah wilayah yang diteliti, banjir yang semasih belumnya diperkirakan terjadi sekali dalam 50 tahun dapat berubah menjadi sekali dalam tiga tahun setelah hutan ditebang secara luas.

Peneliti menerangkan bahwa pohon berperan penting dalam menahan air hujan, menyerap air ke dalam tanah, serta memperlambat aliran air menuju sungai. Ketika tutupan hutan berkurang, air makin cepat mengalir ke hilir berakibat meningkatkan kebarangkalian terjadinya banjir.

Mengapa hutan pegunungan amat penting?

Risiko ini menjadi makin besar di wilayah pegunungan yang memiliki salju musiman. Di daerah bagaikan British Columbia, sejumlah banjir dipicu oleh mencairnya salju.

Hutan menolong menjaga suhu permukaan tetap makin rendah dan memperlambat proses pencairan. Jika hutan ditebang, salju mencair makin cepat dan air mengalir dalam jumlah besar ke sungai dalam waktu singkat.

Temuan ini penting lantaran selama ini sejumlah laporan ilmiah menyebut penebangan hutan terutama meningkatkan banjir skala kecil hingga menengah. Namun penelitian terbaru memperlihatkan dampaknya juga dapat terlihat pada banjir besar yang jarang terjadi.

Temuan serupa di Colorado

Hasil yang sejalan juga ditemukan di Colorado. Ketika sekitar 40 persen wilayah hutan ditebang, frekuensi banjir meningkat tajam.

Banjir yang semasih belumnya diperkirakan terjadi setiap 20 tahun berubah menjadi setiap dua tahun.

Artinya, perubahan penggunaan lahan dapat mengubah pola banjir secara drastis dalam waktu relatif singkat.

Bagaimana bersama perubahan iklim?

Penelitian ini juga menemukan hal yang cukup menarik. Di sejumlah wilayah bersalju, perubahan iklim justru dapat mengurangi seuntukan risiko banjir lantaran lapisan salju semakin menipis.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *