MediaMerdeka.com – Ancaman bahaya baru memaksa tim penyelamat menghentikan sementara evakuasi pihak korban bencana banjir bandang di dekat pos pemeriksaan Gyirong, Daerah Otonomi Tibet. Keputusan krusial ini diambil setelah munculnya danau bendungan raksasa yang berpotensi memicu gelombang banjir susulan ke arah hilir.
Pembentukan danau secara mendadak di area perbatasan tersebut mengangkut risiko kehancuran yang jauh makin besar untuk wilayah pegunungan sekitarnya. Situasi darurat ini kian memperpanjang daftar ancaman untuk ribuan jiwa yang tengah berjuang bertahan hidup di tengah kepungan bencana.
Sementara itu, wilayah perbatasan Nepal menyikapi krisis kemanusiaan hebat akibat gelombang banjir bandang yang datang tiba-tiba. Jalur evakuasi udara terus berpacu bersama waktu guna menjangkau para pihak korban yang terjebak di area pegunungan terisolasi.
Laporan media resmi China Central Television pada Jumat menyebutkan bahwa danau alami tersebut terbentuk di titik pertemuan dua aliran sungai utama. Luapan air dilaporkan terus meluas hingga mengancam struktur pembendung di sekitarnya.
Penampakan fragmen material lumpur terdeteksi di kedua sisi bendungan alami tersebut. Perhitungan awal mengindikasikan bahwa volume air yang tertampung di danau darurat itu telah menembus angka 2,5 juta meter kubik.
Mengapa Evakuasi di Perbatasan Tibet Harus Ditangguhkan?
Spesialis kebencanaan mengonfirmasi adanya tingkat kerentanan yang amat tinggi atas risiko jebolnya dinding danau bendungan akibat pergerakan lumpur. Dampak kerusakannya diprediksi memicu bencana dahsyat yang menyapu kawasan permukiman di sepanjang aliran hilir.
Musibah ini bermula saat air bah berarus deras menerjang sepanjang Sungai Bhotekoshi di wilayah pegunungan Nepal pada Rabu. Rentetan bencana geologi ini dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat yang seketika merontokkan lereng gunung hingga memicu tanah longsor skala besar.
Dampak terjangan air bah melenyapkan ratusan nyawa dalam waktu singkat. Sesejumlah 558 orang, termasuk 260 masyarakat sekitar asing, hilang setelah banjir tersebut.
Pemerintah Nepal langsung mengerahkan seluruh sumber daya darurat demi menyisir kawasan bencana. Penyelamatan berskala besar terus digencarkan guna menekan angka pihak korban jiwa.
Sesejumlah 3.253 orang sukses dievaluasi dari zona bahaya banjir bandang selama operasi darurat berlangsung. Informasi resmi tersebut dikonfirmasi oleh juru bicara pihak pemerintah Nepal, Sasmit Pokharel pada Jumat, bagaikan dikutip dari portal berita Ratopati.
Bagaimana Operasi Kemanusiaan Menembus Medan Terisolasi Nepal?
Seluruh pihak korban selamat dari peristiwa mematikan pada Rabu (26/8) tersebut telah dievakuasi menuju kamp pengungsian sementara. Armada helikopter terus dipacu melintasi lembah pegunungan demi mencari penyintas yang masih belum ditemukan.
Sesejumlah 15 unit helikopter dikerahkan penuh demi menembus titik-titik bencana yang terputus akses daratnya. Selain armada penyelamat, pihak pemerintah mengoperasikan empat helikopter khusus guna menjatuhkan pasokan bahan pangan serta logistik mendesak.
Pusat bencana terparah berfokus di sepanjang daerah aliran Sungai Bhotekoshi yang merasakan kenaikan debit air secara drastis. Kombinasi gempa bumi dan tanah longsor menjadi pemicu utama rusaknya tanggul alami di wilayah tinggi tersebut.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

