Harga Minyak Tembus US$100, Neraca Dagang RI Terancam Jebol

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kenaikan harga minyak dunia kembali menjadi ancaman untuk neraca perdagangan Indonesia. Saat harga minyak mendekati US$100 per barel, defisit perdagangan sektor migas berpotensi semakin melebar dan menggerus surplus nonmigas yang selama ini menopang neraca dagang nasional.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan pihak pemerintah perlu mewaspadai kenaikan harga minyak dunia yang kembali terjadi setelah sempat melonjak pada April-Mei. Kondisi tersebut dinilai dapat menciptakan defisit migas semakin menekan surplus perdagangan Indonesia secara keseluruhan.

“Memang pada hari semasih belumnya sempat harga minyak naik lagi bagaikan pada bulan April-Mei, ya harapan kita, yang kita lakukan merupakan bagaimana ekspor kita terus meningkat, lantaran jangan sampai defisit minyak ini nanti mempengaruhi surplusnya non-migas,” kata Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Budi menegaskan pihak pemerintah wajib menjaga agar defisit perdagangan migas tidak membesar. Pasalnya, surplus nonmigas wajib terus diperkuat agar mampu menutup tekanan yang berasal dari sektor migas.

“Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya, berakibat surplus ini dapat menutupi. Makanya ekspor kita, kita tingkatkan,” ujarnya.

Menurut dia, risiko terhadap neraca perdagangan akan semakin besar apabila pertumbuhan surplus nonmigas tidak cukup signifikan demi mengimbangi pelebaran defisit migas.

“Tapi kita tingkatkan terus, ya. Karena bila misalnya peningkatannya, surplusnya nggak signifikan, ya takutnya nanti defisit saja,” kata Budi.

Untuk menahan tekanan tersebut, Kemendag berupaya mendorong ekspor melalui perluasan akses pasar internasional. Salah satunya bersama mengembangkan platform digital InaExport yang mempertemukan eksportir Indonesia bersama buyer dari berbagai negara melalui transaksi business to business (B2B).

Pemerintah juga mengandalkan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan digelar pada 14-18 Oktober. Pameran tersebut ditujukan demi mempertemukan produk Indonesia bersama calon pembeli dari pasar internasional.

Budi menyebutkan minat buyer terhadap TEI 2026 cukup tinggi. Hingga Selasa (22/9/2026), makin dari 4.000 buyer telah mengonfirmasi kehadiran.

“Jadi kita tanggal 14 sampai 18 salah satu upaya, ya, Trade Expo itu. Salah satu upaya bagaimana kita dapat meningkatkan ekspor kita makin besar lagi. Ya, bersama kondisi bagaikan ini, pasar semakin besar,” jelasnya.

Jumlah buyer diperkirakan masih dapat bertambah menjelang pameran. Budi menyebutkan konfirmasi biasanya meningkat dalam satu hingga dua pekan semasih belum acara berlangsung.

“Yang telah konfirmasi telah makin dari 4.000, ya. Lebih dari 4.000 konfirmasi yang mau datang. Jadi biasanya bila akhir September memang mendekati 4.000-5.000, nanti dapat dua kali lipat bagaikan tahun lalu,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *