Biaya Logistik dan Jalur Air Lumpuh, Sektor Ekspor Tertatih-tatih Tahan Laju

admin
By
admin
5 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kinerja sektor industri pengolahan nasional masih memperlihatkan daya tahan yang baik, meskipun dihadapkan pada sejumlah tekanan struktural. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan September 2026 tercatat berada di level 51,93.

Angka ini menandakan bahwa sektor industri masih berada kokoh di zona ekspansi (di atas level 50), kendati merasakan perlambatan tipis sebesar 0,37 poin dibandingkan capaian bulan Agustus 2026 yang bertengger di level 52,30.

Juru Bicara Keaparatur negara kementerianan Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif, memaparkan bahwa moderasi laju indeks ini utamanya dipicu oleh akumulasi beban biaya logistik yang meningkat, disrupsi jalur distribusi di sejumlah daerah, serta sikap kehati-hatian (wait and see) tersangka industri sembari menantikan ketentuan sejumlah kebijakan pihak pemerintah.

“Industri pengolahan pada bulan September 2026 masih ekspansi bersama indeks sebesar 51,93. Nilai indeks ini sedikit melambat sebesar 0,37 poin dibandingkan bersama bulan Agustus 2026 yang sebesar 52,30,” ungkap Febri dalam konferensi pers perilisan IKI di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Jika ditarik perbandingan secara tahunan (year-on-year) bersama September 2025, IKI pada bulan ini juga merasakan kontraksi sebesar 1,09 poin dari semasih belumnya 53,02.

Dari total 23 subsektor industri pengolahan yang menjadi objek analisis Kemenperin, sesejumlah 15 subsektor terpantau masih melaju di fase ekspansi, sementara delapan subsektor lainnya tertahan di zona kontraksi.

Mayoritas subsektor yang merasakan ekspansi tersebut memiliki peranan yang amat fundamental, bersama menyumbang kontribusi sebesar 84,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026.

Berdasarkan pembelahan variabel IKI, terjadi sebuah anomali di mana tingkat permintaan sebenarnya masih memperlihatkan pergerakan positif.

Nilai IKI demi variabel pesanan baru (new orders) naik 0,27 poin ke level 53,40. Ironisnya, aktivitas produksi justru merasakan pengereman sebesar 1,32 poin menjadi 53,78. Sementara itu, variabel persediaan produk (inventory) turun 0,57 poin dan masih terperangkap dalam fase kontraksi di level 45,45.

Febri mengurai bahwa akar penyebab melambatnya aktivitas produksi di tengah tingginya permintaan merupakan pembengkakan beban logistik, yang secara khusus menekan industri berorientasi ekspor akibat lonjakan harga bahan bakar demi pengapalan internasional.

“Penyebabnya di antaranya meningkatnya biaya logistik, terutama pada industri yang berorientasi ekspor. Hal ini didikarenakankan lantaran kenaikan harga BBM pengiriman logistik, berakibat industri cenderung demi menahan pengiriman barang ekspornya ke luar negeri, meski permintaan ekspornya masih tinggi dan produksi ekspornya juga masih ekspansif,” papar Febri.

Hambatan logistik serupa turut memukul jalur distribusi pasar domestik. Kenaikan harga solar nonsubsidi yang menjadi urat nadi transportasi kapal antar-pulau memaksa seuntukan industri demi membatasi volume pengiriman produknya ke berbagai daerah.

Lebih jauh, disrupsi pasokan juga diperparah oleh fenomena iklim El Nino, yang mengakibatkan penyusutan debit air di sejumlah jalur sungai strategis, berakibat melumpuhkan lalu lintas angkutan tongkang dan kapal.

Di samping masalah logistik, ketidaktentuan regulasi menciptakan tersangka industri bersikap wait and see. “Kita tahu bahwa ada berbagai kebijakan yang ditunggu oleh industri, terkait kebijakan dan insentif di sejumlah sektor, berakibat industri masih menahan seuntukan produknya di gudang meski permintaan domestik masih tetap tinggi dan industri juga sedikit mengurangi produksinya lantaran masih sejumlah stok barang di gudang,” tuturnya.

Jika dibedah berdasarkan target pemasaran, IKI demi kelompok korporasi yang berorientasi ekspor pada September 2026 masih tangguh di level 52,60 (fase ekspansi), meski terkoreksi 0,49 poin dari bulan semasih belumnya. Di sisi lain, indeks korporasi bersama orientasi pasar domestik berada di level 50,94, melambat tipis 0,19 poin dari posisi Agustus.

Meskipun pencapaian bulan September diwarnai oleh perlambatan gerak, proyeksi ke depan justru menampakkan sinyal positif. Menariknya, optimisme tersangka industri dalam menatap prospek bisnis demi enam bulan ke depan justru merasakan penguatan.

Survei Kemenperin mencatat bahwa sesejumlah 67,4 persen tersangka usaha menegaskan sikap optimistis, yang merepresentasikan kenaikan sebesar 0,8 persen dibandingkan tingkat keyakinan pada bulan semasih belumnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *