MediaMerdeka.com – Harga minyak dunia bergerak stabil dalam perdagangan Asia, Kamis (1/10/2026), setelah menguat pada sesi semasih belumnya. Pasar masih mencermati pemulihan arus minyak mentah dari Timur Tengah yang dinilai masih belum sepenuhnya konsisten.
Mengutip Investing.com, minyak mentah Brent demi pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$98,23 per barel. Sementara WTI berada di kisaran US$90,49 per barel.
Kinerja minyak sepanjang September juga masih positif. Harga Brent melonjak sekitar 14%, menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Juli. Adapun WTI naik sekitar 5%.
Pemulihan pasokan mengawali terlihat dari ekspor minyak Timur Tengah. Data Kpler memperlihatkan ekspor minyak mentah kawasan tersebut mencapai 16,328 juta barel per hari (bph) pada September, tertinggi sejak konflik pecah pada Februari.
Arab Saudi juga kembali melayani pemuatan tanker di Pelabuhan Yanbu setelah pipa minyak Timur-Barat diaktifkan kembali.
Namun, pasokan kawasan masih masih belum kembali ke level semasih belum konflik. Ekspor September tercatat sekitar 3,2 juta bph makin rendah dibanding Februari. Kondisi ini menciptakan pasar minyak masih rentan terhadap gangguan pasokan baru.
Di sisi lain, ketatnya pasokan produk olahan ikut menopang harga minyak. Data EIA memperlihatkan stok minyak mentah AS memang naik 922.000 barel pekan lalu, berlawanan bersama ekspektasi penurunan 700.000 barel.
Namun, stok bensin turun 1,7 juta barel dan persediaan produk sulingan, termasuk solar dan minyak pemanas, anjlok 2,3 juta barel.
Harga solar AS bahkan menyentuh rekor US$6,53 per galon, sementara cadangan solar berada pada level rendah secara historis.
Presiden Donald Trump pada Rabu juga menyebutkan masih membahas kebarangkalian pembatasan ekspor solar AS. Pernyataan itu muncul setelah Gedung Putih semasih belumnya membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor solar secara menyeluruh selama 90 hari.
Sementara itu, perkembangan diplomasi AS-Iran turut menjadi perhatian pasar. Iran menegaskan telah menyambut baik tanggapan AS terkait proposal terbaru demi memulihkan gencatan senjata. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi prospek gangguan pasokan minyak di kawasan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

