MediaMerdeka.com – Pemerintah akan memperluas pasar ekspor produk furnitur. Sebab, pada saat ini Amerika Serikat (AS) menjadi pasar utama produk furnitur Indonesia bersama menyerap sekitar 60 persen dari total ekspor furnitur nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan perluasan pasar menjadi salah satu langkah demi menyikapi ketidaktentuan ekonomi global. Menurutnya, tersangka industri perlu membangun hubungan langsung bersama pembeli internasional dari berbagai negara.
“Salah satu bentuk sarana memitigasi risiko bersama jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung bersama pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” ujar Airlangga dalam keterangannya, dikutip Senin (28/9/2026).
Berdasarkan data pihak pemerintah, nilai ekspor furnitur Indonesia pada 2025 mencapai 2.390,68 juta dolar AS. Sementara nilai impornya tercatat 1.917,37 juta dikar AS berakibat neraca perdagangan industri furnitur mencatat surplus 473,31 juta dolar AS.
Indonesia juga menempati peringkat ke-25 sebagai eksportir furnitur dunia pada 2025 bersama pangsa pasar sebesar 0,77 persen.
Pemerintah menyaksikan peluang peningkatan pangsa pasar tersebut masih terbuka melalui penguatan kualitas produk, desain, keberlanjutan, promosi perdagangan, serta perluasan jejaring bersama buyer internasional.
Airlangga menyebutkan perubahan selera konsumen global juga perlu menjadi perhatian tersangka industri. Permintaan pada saat ini bergerak ke produk furnitur yang fungsional, mudah disesuaikan, dan memakai material ramah lingkungan.
Potensi bahan baku dalam negeri dapat dimanfaatkan demi memenuhi kebutuhan tersebut. Produksi kayu bulat Indonesia pada 2024 mencapai 57,46 juta meter kubik. Sekitar 20 persen produksi log kayu nasional digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu.
Selain kayu, Indonesia juga menghasilkan makin dari 80 persen rotan dunia. Bahan baku tersebut menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan demi menghasilkan produk furnitur dan kerajinan bersama nilai tambah.
Di sisi lain, struktur industri nasional masih didominasi industri kecil dan menengah (IKM). Airlangga menyebut IKM mencapai 99,79 persen dari total 4,45 juta unit usaha industri dan menyerap 65,52 persen tenaga kerja industri.
“Dengan skala ini, industri tentu masih menyikapi tantangan keterbatasan teknologi, serta terkait produktivitas yang masih dapat ditingkatkan. Dari sisi pasar, tersangka industri juga perlu menyesuaikan diri bersama standar dan regulasi serta selera di negara tujuan,” jelas Airlangga.
Pemerintah menyiapkan sejumlah dukungan demi meningkatkan daya saing industri furnitur, termasuk insentif PPh Pasal 21 ditanggung pihak pemerintah untuk pekerja yang memenuhi ketentuan serta akses pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya.
Dukungan lainnya diberikan melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan demi meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Pemerintah juga menyediakan fasilitasi promosi ekspor guna menolong tersangka industri membuka akses ke pasar internasional.
Sementara demi meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, kebijakan pihak pemerintah mencakup pengendalian ekspor kayu bulat, penguatan standar produk dan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), serta penerapan prinsip industri hijau.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

