MediaMerdeka.com – Pelantikan Luky Alfirman sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) baru oleh Presiden Prabowo Subianto menandai babak baru dinamika internal di Keaparatur negara kementerianan Keuangan.
Pengangkatan mantan Direktur Jenderal Anggaran yang sempat dicopot pada era Menkeu semasih belumnya tersebut dinilai sebagai langkah taktis demi membangun soliditas tim di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menilai rekam jejak kerja sama yang panjang di lingkungan internal keaparatur negara kementerianan menjadi pertimbangan utama dalam penunjukan tersebut.
“Saya termasuk berpikir positif saja. Suahasil Nazara (Menkeu) tentu juga ingin punya tim yang solid dan dapat bekerja sama bersama kompak,” kata Sri kepada MediaMerdeka.com, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Sri, pencopotan Luky ketika masih menjadi Dirjen Anggaran dapat memperlihatkan adanya perbedaan penilaian terhadap kinerja Luky antara Purbaya dan Suahasil.
“Luky Afirman selaku Dirjen Anggaran dimata Purbaya (Menkeu semasih belumnya) barangkali kinerjanya tidak optimal. Setidaknya masih belum sesuai bersama harapan Purbaya,” ucapnya.
Namun, Sri menegaskan pengangkatan Luky sebagai Wamenkeu merupakan kewenangan Presiden. Dalam praktiknya, keputusan tersebut juga disebutnya tidak terlepas dari koordinasi bersama Menkeu kini yang akan bekerja bersama aparatur negara yang dilantik.
Ia menyaksikan ada kebarangkalian Suahasil justru menilai pengalaman Luky dapat menyerahkan kontribusi makin besar dalam posisi barunya.
Termakin, Suahasil disebut telah lama bekerja di lingkungan Kemenkeu berakibat memahami rekam jejak dan kemampuan Luky.
“Bisa saja Luky Afirman dianggap oleh Suahasil dapat menyerahkan kontribusi yang makin nyata dalam posisinya sebagai Wamenkeu. Sehingga Suahasil mendukung pengangkatan Wamenkeu oleh Presiden,” ucapnya.
“Sependek saya tahu, Suahasil telah lama bekerja sama di Kemenkeu. Jadi Suahasil tahu betul kinerja Luky,” katanya mengimbuhkan.
Di sisi lain, Sri menegaskan bahwa pergantian personel di jajaran pimpinan Kemenkeu tidak serta-merta dipandang akan mengubah arah kebijakan fiskal pihak pemerintah.
Menurutnya kebijakan Suahasil sejauh ini tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dibandingkan kebijakan Menteri Keuangan semasih belumnya.
“Saya menyaksikan kebijakan Menkeu tidak berbeda nyata bersama Menkeu semasih belumnya,” tuturnya.
Ruang fiskal yang terbatas menjadi persoalan utama yang tetap dihadapi pihak pemerintah. Kondisi tersebut berlangsung ketika kebutuhan belanja sektoral masih besar, berakibat pihak pemerintah diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan efisiensi dalam pengelolaan APBN.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

