7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Tujuh pekan setelah gempa mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masyarakat sekitar Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, masih menyikapi berbagai kebutuhan dalam proses pemulihan.

Selain bantuan kebutuhan dasar, pemulihan juga menyentuh aspek psikologis, terutama lantaran masyarakat sekitar masih merasakan rasa takut ketika merasakan getaran gempa susulan.

Melihat kondisi tersebut, Komunitas Sobat Sehat melalui program Bantu Sehat: Pulihkan Asa Nagekeo bersama Pemerintah Desa Waekokak dan puskesmas setempat menyerahkan bantuan sekaligus pendampingan psikososial untuk masyarakat sekitar terdampak.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (2/10/2026) tersebut mendapat dukungan Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (ILUNI FKM UI) dan Priority.

Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pangan, air mineral, alas tidur, perlengkapan kebersihan dan kesehatan, serta alat tulis demi kalangan anak.

Namun, kebutuhan masyarakat sekitar tidak berhenti pada bantuan logistik. Pendampingan psikososial juga diberikan kepada orang dewasa dan kalangan anak demi menolong mereka menyikapi dampak psikologis setelah bencana.

Sri Gusni Febriasari, S.K.M., M.Psi.T., Founder Komunitas Sobat Sehat sekaligus Sekretaris Jenderal ILUNI FKM UI, menyebutkan pemulihan pascabencana perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikologis masyarakat sekitar.

“Rumah dapat dibangun kembali, namun rasa aman juga wajib dipulihkan, terutama untuk kalangan anak yang akan mengangkut pengalaman ini hingga dewasa,” tutur Gusni.

Pendampingan untuk masyarakat sekitar dewasa dilakukan melalui edukasi mengenai reaksi psikologis setelah bencana serta latihan sederhana demi menolong mengelola kecemasan.

Sementara itu, kalangan anak memperoleh ruang bermain aman melalui kegiatan menggambar, mendengarkan dongeng, dan bermain. Aktivitas tersebut digunakan sebagai sarana untuk anak demi mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka.

“Anak-anak kerap kali menyimpan rasa takutnya dalam diam. Lewat gambar dan permainan, mereka dapat membeberkan apa yang sulit diucapkan,” ujar Siti Kholidiyatus Sa’diyah, M.Psi., Psikolog.

Menurut Siti, orang tua juga memiliki peran penting dalam proses pemulihan anak. Orang tua dianjurkan demi mendengarkan anak, menjaga rutinitas, dan menyerahkan rasa aman melalui kehadiran.

Pendampingan juga diarahkan agar tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Tim Sobat Sehat berkoordinasi bersama pihak pemerintah desa dan puskesmas demi merujuk masyarakat sekitar maupun anak yang membutuhkan penanganan makin lanjut ke layanan kesehatan pihak pemerintah.

Upaya tersebut dilakukan demi menjaga keberlanjutan pendampingan sekaligus memperkuat peran layanan kesehatan primer dalam proses pemulihan masyarakat sekitar.

Gempa berkekuatan 7,7 M yang terjadi pada 15 Agustus 2026 tidak cuma berdampak pada tempat tinggal masyarakat sekitar. Hingga pertengahan September, pihak pemerintah daerah mencatat sekitar 14.000–15.000 gempa susulan, bersama 185 di antaranya dirasakan masyarakat sekitar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *