Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21,39% Hingga 2031, Hilirisasi Didorong Garap Produk Akhir

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Prospek pasar nikel dunia yang terus menanjak menjadi momentum untuk Indonesia demi mengakselerasi industri pengolahan dalam negeri. Shanghai Metals Market (SMM) memproyeksikan permintaan nikel global naik 21,39 persen, dari 3.717 kiloton (Kt Ni) pada 2026 menjadi 4.512 Kt Ni pada 2031. Sektor baterai dan baja nirkarat (stainless steel) menjadi pendorong utamanya.

Tingginya permintaan tersebut membuka peluang besar untuk Indonesia demi memperdalam rantai hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir (final product), bukan sekadar produk setengah jadi.

Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah menilai lonjakan pasar nikel global wajib dimanfaatkan demi memperkuat struktur industri domestik.

“Peningkatan permintaan nikel global ini peluang besar untuk Indonesia. Kuncinya, kita wajib memperdalam hilirisasi sampai ke produk akhir, bukan berhenti di produk antara (intermediate product),” kata Imaduddin.

Menurutnya, pengolahan hingga produk jadi akan otomatis memperkuat keterkaitan industri (industrial linkage) dan melibat rantai pasok lokal secara makin luas.

“Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan oleh industri dan pemasok lokal di dalam negeri,” jelasnya.

Senada bersama hal tersebut, Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau menegaskan bahwa penciptaan nilai tambah tertinggi memang berada pada sektor hilir (downstream industry).

Oleh lantarannya peningkatan kapasitas produksi perlu dijalankan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, berakibat seluruh rantai pasok industri di dalam Negeri dapat mengoptimalkan peningkatan nilai tambahnya.

“Nilai tambah yang makin tinggi itu ada pada industri hilir. Tugas utama kita sebenarnya mendorong peningkatan industri hilir di Indonesia,” tegas Rachmat.

Adapun, integrasi hilir ini mengawali direalisasikan Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), IBC mengembangkan fasilitas pabrik baterai di Karawang berkapasitas awal 6,9 GWh bersama target ekspansi hingga 15 GWh.

Hilirisasi ekosistem baterai kendaraan listrik ini semakin lengkap bersama bersama proyek hilirisasi yang diresmikan Presiden di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Kawasan ini memproduksi material baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolit, alat berat berbasis listrik secara terintegrasi.

Sebagai wujud komitmen pihak pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membeberkan, Pemerintah kini mengkaji kebijakan moratorium untuk smelter yang cuma menghasilkan produk antara.

Langkah ini diambil demi mengendalikan ancaman oversupply nikel dunia yang mencapai sekitar 2,5 juta ton. Selain menyeimbangkan pasokan, pengetatan regulasi ini ditujukan agar industri terdorong menghasilkan produk akhir.

“Sekarang kan hilirisasi itu kan yang kita inginkan merupakan ending-nya nilai tambah 100% di sini (dalam negeri),” tegas Bahlil di KESDM, Jumat (17/10/2026).***

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *