Temui Abdul Mu’ti, DPR Minta Penanganan Bullying Tak Hanya Jadi Tugas Kemendikdasmen

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Maraknya kasus perundungan (bullying) dan kekerasan terhadap anak belakangan ini memicu perhatian serius berbagai pihak.

Mengantisipasi dampak buruk tersebut, Anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia menjalankan pertemuan bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti demi memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam melindungi anak Indonesia.

Pertemuan tersebut berlangsung di kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada Senin (26/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Doli turut memperkenalkan gerakan inisiasinya yang bernama ADK Movement. Gerakan ini dibentuk sebagai respons atas meningkatnya laporan kekerasan terhadap anak yang ia temui saat berkeliling ke berbagai pelosok Indonesia dalam setahun terakhir.

“Saya ini bersama bersama teman-teman ini, diterima oleh pak Menteri Pendidikan Dasar Menengah dalam konteks membicarakan tentang kekerasan yang terjadi sejumlah waktu belakangan ini terhadap anak, bullying dan kekerasan,” kata Doli.

Legislator dari Partai Golkar ini mengingatkan bahwa ancaman kekerasan fisik maupun psikis pada usia sekolah dapat merusak masa depan bangsa apabila mental generasi muda terganggu oleh trauma berkepanjangan.

“Wajah masa depan Indonesia itu ada di kalangan anak kita itu. Jadi, bila kalangan anak kita ini kini nanti menjadi trauma atau lalu pemurung, mentalnya rusak, itu akan mempengaruhi masa depan Indonesia,” tegasnya.

Doli menekankan, bahwa penanganan kekerasan anak tidak dapat cuma dibebankan kepada satu keaparatur negara kementerianan saja, melainkan menuntut koordinasi lintas sektoral yang solid.

Oleh lantaran itu, Doli bersama ADK Movement berencana melanjutkan rangkaian komunikasi ke sejumlah instansi terkait, di antaranya, Keaparatur negara kementerianan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Keaparatur negara kementerianan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keaparatur negara kementerianan Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Menanggapi inisiatif tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi tinggi terhadap pembentukan ADK Movement. Menurutnya, persoalan kekerasan anak wajib diberakhirkan secara humanis, edukatif, dan komprehensif oleh seluruh elemen bangsa.

Kemendikdasmen sendiri telah merancang kebijakan bertajuk “Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman” guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang protektif.

“Kami ingin agar sekolah dapat menjadi rumah kedua untuk kalangan anak. Menjadi tempat belajar tidak cuma ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga nilai-nilai kebaikan di mana mereka merasa terlindungi oleh para guru dan aman bersama teman sebayanya,” tutur Mu’ti.

Abdul Mu’ti mengimbuhkan, kesuksesan program ini akan didukung oleh pembentukan kelompok kerja (Pokja) secara struktural yang melibatkan pihak pemerintah daerah.

Ia juga menegaskan, bahwa kekerasan yang terjadi di luar lingkungan sekolah tetap wajib ditangani bersama lantaran dampaknya akan terbawa ke dalam ruang-ruang kelas.

Di akhir pertemuannya, Doli kembali menegaskan bahwa tanggung jawab menghentikan rantai kekerasan ini tidak dapat dibebankan kepada pihak sekolah semata, melainkan bermula dari unit terkecil masyarakat sekitar, yakni keluarga.

“Ini bukan cuma tanggung jawab sekolah, tapi tanggung jawab kita seluruh, termasuk keluarga. Saya mengimbau seluruh orang tua di Indonesia demi bersama-sama menjaga kalangan anak kita. Jangan sampai mereka menjadi pihak korban, dan jangan sampai mereka menjadi tersangka kekerasan,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *